Jumat, 19 April 2013

pengorganisasian bimbingan konseling


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Bimbingan dan Konseling (BK) merupakan hal yang sangat penting dalam  dunia pendidikan. Tujuan bimbingan dan konseling dalam dunia pendidikan adalah  agar tercapai perkembangan yang optimal pada individu yang dibimbing, yaitu agar siswa dapat mengembangkan dirinya secara optimal sesuai dengan potensi atau kapasitasnya dan mampu berkembang sesuai dengan lingkungannya serta mampu bersikap mandiri.
Program bimbingan dan konseling ini dapat terlaksana dengan  baik jika semua pihak sekolah baik Kepala Sekolah, Wakasek, staff pengajar, ataupun staff TU terlibat di dalamnya. Agar hal ini mampu berjalan secara optimal maka diperlukan pengorganisasian bimbingan dan konseling.
Dalam praktek di sekolah bimbingan dan konseling sering kali ditimpakan pada guru pembimbing saja tanpa melibatkan elemen-elemen sekolah yang lain. Pada kasus yang lain terkadang bimbingan dan konseling dikhususkan pada guru BK tetapi jumlah guru BK tersebut kurang mencukupi dibandingkan dengan permbandingan jumlah siswa sehingga sering kegiatan ini tidak intensif dan menyeluruh bahkan hanya ditujukan untuk siswa-siswa yang bermasalah saja.
Maka dari perlu adanya pengorganisasian program layanan bimbingan dan konseling. Dalam makalah ini penulis akan membahas mengenai pengorganisasian program layanan bimbingan dan konseling.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian pengorganisasian bimbingan dan konseling ?
2.      Apa tujuan dan manfaat pengorganisasian bimbingan dan konseling?
3.      Bagaimana prinsip-prinsip pengorganisasian bimbingan dan konseling?
4.      Bagaimana pola dan struktur pengorganisasian bimbingan dan konseling?
5.      Bagaimana kinerja elemen sekolah dalam pengorganisasian layanan bimbingan dan konseling ?
C.    Tujuan Penulisan Makalah
Sesuai dengan rumusan masalah diatas, makalah ini disusun dengan tujuan untuk mengetahui :
1.      Pengertian pengorganisasian bimbingan dan konseling
2.      Tujuan dan manfaat pengorganisasian bimbingan dan konseling
3.      Prinsip-prinsip pengorganisasian bimbingan dan konseling
4.      Pola dan struktur pengorganisasian bimbingan dan konseling
5.      Kinerja elemen sekolah dalam pengorganisasian layanan bimbingan dan konseling

D.    Manfaat penulisan Makalah
Makalah ini ditulis dengan harapan secara teoritis maupun secara praktis. Secara teoritis makalah ini bisa bermanfaat untuk mengetahui pengorganisasian bimbingan dan konseling. Secara praktis bahwa makalah ini diharapkan bagi:
1.      Penulis, melaksanakan pengorganisasian bimbingan dan konseling di sekolah
2.      Pembaca, sebagai sarana untuk menambah wawasan pengorganisasian bimbingan dan konseling.
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Pengorganisasian Bimbingan dan Konseling
Pengorganisasian merupakan suatu proses untuk merancang sruktur formal, mengelompokkan dan mengatur serta membagi tugas-tugas atau pekerjaan diantara para anggota, agar tujuannya dapat dicapai dengan efisien. Pengorganisasian adalah tindakan mengusahakan hubungan efektif antara personel sehingga mereka dapat bekerja secara efisien dan mendapat kepuasan pribadi dalam menjalankan tugasnya.
Pengorganisasian merupakan langkah menuju pelaksanaan perencanaan yang telah ditetapkan sebelumnya. Karena organisasi merupakan alat administrasi untuk untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, maka susunan bentuk dan besar kecilnya organisasi harus disesuaikan dengan tujuan yang telah ditetapkan tersebut.
Jadi demikian dapat dinyatakan bahwa pengorganisasian kegiatan bimbingan dan konseling adalah bentuk kegiatan yang mengatur cara kerja, prosedur kerja, dan pola atau mekanisme kerja kegiatan bimbingan dan konseling. Kegiatan bimbingan dan konseling dapat berjalan dengan lancer, tertib, efektif dan efesien apabila dilaksanakan dalam suatu organisasi yang baik dan teratur. Pengorganisasian kegiatan bimbingan dan konseling ditandai oleh adanya dasar dan tujuan organisasi, personel dan perencanaan yang matang.

B.     Tujuan dan Manfaat Pengorganisasian Bimbingan dan Konseling
Pengorganisasian bertujuan untuk meningkatkan efektifitas dan efesiensi pelaksanaan bimbingan dan konseling, meningkatkan pemahaman terhadap stakeholder dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling, membangun komunikasi dari berbagai petugas bimbingan dan konseling sehingga terjadi persepsi yang sama, dan membangun dan menetapkan akuntabilitas dalam layanan bimbingan dan konseling (Sugiyo, 2011:39)
Adapun manfaat organisasi bimbingan dan konseling, khususnya di sekolah dapat dikemukakan, antara lain sebagai berikut :
1.      Ruang lingkup pelayanan bimbingan jauh lebih luas dan semua siswa harus mendapatkan pelayan bimbingan, terutama melalui bimbingan kelompok.
2.      Pelayanan bimbingan menjadi usaha yang dilakukan bersama oleh staf bimbingan sebagai tim kerja.
3.      Sarana personal dan materiil dapat dimanfaatkan secara optimal sehingga dari segi finansial lebih dapat dipertanggung jawabkan dan efisien.
4.      Sifat bimbingan yang lebih ditonjolkan ialah sifat preventif dan perseveratif.
5.      Pelayanan bimbingan dalam semua komponen program bimbingan mendarah daging dalam kehidupan sekolah.
6.      Kedudukan, wewenang, dan tugas konselor sekolah diakui oleh staf pendidik di sekolah dan di nilai lebih positif karena disamping program pengajaran, terdapat program bimbingan yang sama sama dikelola secara profesional.
7.      Dibuktikan bahwa pelayanan bimbingan tidak hanya meliputi wawancara konseling, tetapi mencakup berbagai kegiatan lainnya untuk semua satuan kelas.
8.      Lebih mudah menentukan urutan prioritas, yaitu layanan bimbingan yang diutamakan di institusi pendidikan tertentu pada jenjang pendidikan tertentu.
9.      Tenaga bimbingan oleh para siswa tidak di pandang sebagai satpam sekolah, petugas membina disiplin, guru cadangan, ahli menangani kasus kenakalan, serta kasus keabnormalan, dan sebagainya.
10.  Diperjelas bahwa layanan bimbingan mengandung unsur proses, yang membawa hasil secara gradual sebagai akibat dan usaha tenaga bimbingan dan siswa bersama-sama, sama seperti pengajaran yang juga mengenal unsur proses.

C.    Prinsip-prinsip Organisasi Bimbingan dan Konseling
Sekolah adalah organisasi formal, yang di dalamnya terdapat usaha-usaha administrasi dalam usaha mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran nasional. Adapun bimbingan dan konseling adalah suborganisasi dari organisasi sekolah.
Dalam organisasi bimbingan dan konseling di sekolah perlu diperhatikan beberapa prinsip organisasi untuk menjamin kelancaran pelaksanaan program layanan bimbingan dan konseling di sekolah.
Adapun prinsip-prinsip organisasi, secara umum dapat dijelaskan sebagai berikut.
1.      Organisasi harus mempunyai tujuan yang jelas
Organisasi dibentuk atas dasar adanya tujuan yang ingin dicapai,sehingga  tidak mungkin suatu organisasi tanpa adanya tujuan.
2.      Prinsip skala Hierarki
Dalam suatu organisasi, harus ada garis kewenangan yang jelas dari pimpinan, pembantu pimpinan sampai pelaksana, sehinnga dapat mempertegas ddalam pendelegasian wewenang dan pertanggung jawaban, dan akan menunjang efektifitas jalannya organisasi secara keseluruhan.
3.      Prinsip kesatuan perintah
Dalam hal ini seseorang hanya menerima perintah atau bertanggung jawab kepada seseorang atasan saja
4.      Prinsip pendelegasian wewenang
Dalam pendelegasian, wewenang yang dilimpahkan meliputi kewenangan dalam pengambilan keputusan, melakukan hubungan dengan orang lain, dan mengadakan tindakan tanpa meminta persetujuan lebih dahulu kepada atasannya.
5.      Prinsip pertanggung jawaban
Dalam menjalankan tugasnya, setiap pegawai harus bertanggung jawab sepenuhnya kepada atasan
6.      Prinsip pembagian pekerjaan
Adanya kejelasan dalam pembagian tugas akan memperjelas dalam pendelegasian wewenang, pertanggungjawaban, serta menunjang efektifitas jalannya organisasi
7.       Prinsip rentang pengendalian
Artinya bahwa jumlah bawahan atau staf yang harus dikendalikan oleh seorang atasan perlu dibatasi secara rasional. Rentang kendali ini sesuai dengan bentuk dan tipe organisasi.
8.      Prinsip fungsional
Secara fungsional, tugas dan wewenang, kegiatan, hubungan kerja, serta tanggungjawab seorang pegawai harus jelas.
9.      Prinsip pemisahan
Tanggung jawab tugas  pekerjaan seseorang tidak dapat dibebankan kepada orang lain
10.  Prinsip keseimbangan
Keseimbangan disini adalah keseimbangan antara struktur organisasi yang efektif dan tujuan organisasi.
11.  Prinsip fleksibilitas
Organisasi harus senantiasa melakukan pertumbuhan dan perkembangan sesuai dengan dinamika organisasi sendiri (inter factor) dank arena adanya pengaruh di luar organisasi (external factor), sehingga organisasi mampu menjalankan fungsi dalam mencapai tujuan.
12.  Prinsip kepemimpinan
Dalam organisasi apapun bentuknya,diperlukan pemimpin atau dengan kata lain organisasi mampu menjalankan aktifitasnya karena adanya proses kepemimpinan yang digerakkan oleh pemimpin organisasi tersebut.
Organisasi yang demikian itu secara tegas mengatur kedudukan, tugas dan tanggung jawab para personil sekolah yang terlibat. Demikian pula, organisasi tersebut tergambar dalam struktur atau pola organisasi yang bervariasi yang tergantung pada keadaan dan karakteristik sekolah masing-masing. jika personil sekolah siswanya berjumlah banyak dengan didukung oleh personil sekolah yang memadai diperlukan sebuah pola organisasi bimbingan dan konseling yang lebih kompleks.

D.    Pola dan Struktur Pengorganisasian
Struktur atau pola BK di sekolah adalah sebagai berikut:
1.      Kepala Sekolah/Wakil Kepala Sekolah
Adalah penanggunh jawab pelaksanaan teknis bimbingan di sekolah.
2.      Koordinator Bimbingan/Guru Pembina Ekstrakulikuler
Adalah pelaksanaan bimbingan utama yang mengkoordinir semua kegiatan yang terkait dalam  Guru Mata Pelajaran/Pelatih
3.      Guru Mata Pelajaran/Pelatih ekstrakurikuler
Adalah pelaksana pengajaran dan pelatihan serta bertanggung jawab memberikan informasi   tentang siswa untuk kepentingan bimbingan
4.      Wali Kelas/Guru Pembina
Adalah guru yang diberi tugas khusus disamping mengajar untuk mengelola suatu kelas siswa tertentu dan bertanggung jawab membantu kegiatan bimbingan
5.      Siswa
Adalah peserta didik yang berhak menerima pelajaran, latihan, dan pelayanan bimbingan
6.      Tata Usaha
Adalah pembantu kepala sekolah dalam penyelnggaraan administrasi, ketatausahaan sekolahan pelaksanaan administrasi bimbingan.
7.      Komite Sekolah
Adalah sebagai lembaga mandiri, dibentuk dan berperan dalam peningkatan mutu pelayanan dengan memberikan pertimbangan, arahan dan dukungan teman-teman, sarana dan prasarana, serta pengawasan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan.
8.      Tenaga Ahli/Instansi Terkait
Adalah tenaga yang berperan memberikan rekomondasi kepada kepala sekolah dan guru pembimbing tentang kondisi siswa.
9.       Personal
Personal layanan bimbingan konseling adalah segenap unsur yang terkait di dalam struktur organisasi pelayanan bimbingan konseling dengan koordinator guru pembimbing khusus sebagai pelaksana utama.
Personal yang dapat berperan dalam pelayanan bimbingan dan konseling  terentang secara vertikal dan horizontal. Pada umumnya dapat diidentifikasi   sebagai berikut:
a)      Personal pada Kantor Dinas Pendidikan yang bertugas melakukan pengawasan (penyeliaan) dan pembinaan terhadap penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling di satuan pendidikan.
b)      Kepala Sekolah, sebagai penanggung jawab program pendidikan secara menyeluruh (termasuk di dalamnya program bimbingan dan konseling) di satuan pendidikan masing-masing.
c)       Guru Pembimbing atau Guru Kelas, sebagai petugas utama dan tenaga inti dalam pelayanan bimbingan dan konseling.
d)     Guru-guru lain, (guru mata pelajaran Guru Praktik) serta wali kelas, sebagai penanggung jawab dan tenaga ahli dalam mata pelajaran, program latihan atau kelas masing-masing.
e)      Orang tua, sebagai penanggung jawab utama peserta didik dalam arti yang seluas-luasnya.
f)       Ahli-ahli lain, dalam bidang non bimbingan dan nonpelajaran/ latihan (seperti dokter, psikolog, psikiater) sebagai subjek alih tangan kasus.
g)      Sesama peserta didik, sebagai kelompok subyek yang potensial untuk diselenggarakannya “bimbingan sebaya”

E.     Kinerja Elemen Sekolah dalam Pengorganisasian Layanan Bimbingan dan Konseling
Pengorganisasian program layanan bimbingan konseling di sekolah adalah upaya melibatkan orang-orang ke dalam organisasi bimbingan sekolah, serta upaya pembagian kerja diantara anggota organisasi bimbingan sekolah. Di bawah ini dijelaskan tugas personal sekolah berkaitan dengan kegiatan layanan bimbingan dan konseling di sekolah, antara lain:

a.        Kepala Sekolah
Sebagai penanggung jawab kegiatan pendidikan sekolah, tugas kepala sekolah ialah:
1.      Mengoordinasi seluruh kegiatan pendidikan meliputi kegiatan pengajaran, pelatihan dan bimbingan dan konseling di sekolah,
2.      Menyediakan serta melengkapi sarana dan prasarana yang diperlukan dalam kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah,
3.      Memberikan kemudahan bagi terlaksananya program bimbingan konseling di sekolah,
4.      Melakukan supervisi terhadap pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah,
5.      Menetapkan koordinator guru pembimbing yang bertanggung jawab atas koordinasi pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah berdasarkan kesepakatan bersama guru-guru pembimbing,
6.      Membuat surat tugas guru pembimbing tiap awal caturwulan,
7.      Menyiapkan surat pernyataan melakukan kegiatan bimbingan dan konseling,
8.      Mengadakan kerja sama dengan instansi lain yang terkait dalam pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling, serta
9.      Melaksanakan bimbingan dan konseling terhadap minimal 40 siswa, bagi kepala sekolah yang berlatar belakang bimbingan dan konseling.

b.        Wakil Kepala Sekolah
Wakil kepala sekolah membantu kepala sekolah dalam hal:
1.      Mengoordinasi pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling kepada semua personel sekolah,
2.      Melaksanakan kebijakan pimppinan sekolah terutama dalam pelaksanaan layanan dan bimbingan konseling, serta
3.      Melaksanakan bimbingan dan konseling terhadap minimal 75 siswa, bagi wakil kepala sekolah yang berlatar belakang bimbingan dan konseling.

c.         Koordinator Guru Pembimbing (Konselor)
Tugas-tugas koordinator guru pembimbing seperti:
1.      Mengoordinasikan para guru pembimbing dalam:
a.       Memasyarakatkan pelayanan bimbingan,
b.      Menyusun program
c.       Melaksanakan program
d.      Mengadministrasikan kegiatan bimbingan,
e.       Menilai program, dan
f.       Mengadakan tindak lanjut.
2.      Membuat usulan kepada kepala sekolah dan mengusahakan terpenuhinya tenaga, sarana, serta prasarana, dan
3.      Mempertanggungjawabkan pelaksanaan kegiatan bimbingan kepada kepala sekolah.

d.        Guru Pembimbing (Konselor)
Adapun tugas guru pembimbing ialah:
1.      Memasyarakatkan kegiatan bimbingan,
2.      Merencanakan program bimbingan,
3.      Melaksanakan pelaksanaan kegiatan bimbingan,
4.      Melaksanakan layanan bimbingan terhadap sejumlah siswa yang menjadi tanggungjawabnya minimal sebanyak 150 siswa. Apabila diperlukan, karena jumlah guru pembimbing kurang mencukupi dibandingkan dengan jumlah siswa yang ada, seorang guru pembimbing dapat menangani lebih dari 150 siswa; dengan menagani 150 siswa secara intensif dan menyeluruh, berarti guru pembimbing telah menjalankan tugas wajib seorang guru, yaitu setara dengan 18 jam pelajaran seminggu.
5.      Melaksanakan kegiatan penunjang bimbingan,
6.      Menilai proses dan hasil kegiatan layanan bimbingan,
7.      Menganalisis hasil penilaian,
8.      Melaksanakan tindak lanjut berdasarkan hasil analisis penilaian,
9.      Mengadministrasikan kegiatan bimbingan dan konseling, serta
10.  Mempertanggungjawabkan tugas dan kegiatan kepada kooordinator guru pembimbing.

e.         Staf Administrasi
Seperti personel bimbingan lain, staf administrasi adalah personel yang memiliki tugas bimbingan khusus, antara lain:
1.      Membantu guru pembimbing dan koordinator dalam mengadministrasikan seluruh kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah,
2.      Membantu mempersiapkan seluruh kegiatan bimbingan dan konseling, serta
3.      Membantu menyiapkan sarana yang diperlukan dalam layanan bimbingan dan konseling.

f.         Guru Mata Pelajaran
Guru mata pelajaran adalah personel yang sangat penting dalam aktivitas bimbingan. Tugas-tugasnya adalah
1.      Membantu memasyarakatkan layanan bimbingan kepada siswa
2.      Melakukan kerja sama dengan guru pembimbing dalam mengidentifikasikan siswa yang memerlukan bimbingan
3.      Mengalihtangankan siswa yang memerlukan bimbingan kepada guru pembimbing,
4.      Mengadakan upaya tindak lanjut layanan bimbingan (program perbaikan dan pengayaan),
5.      Memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperoleh layanan bimbingan dari guru pembimbing,
6.      Membantu mengumpulkan informasi yang diperlukan dalam rangka penilaian layanan bimbingan, serta
7.      Ikut serta dalam program layanan bimbingan.

g.        Wali Kelas
Wali kelas sebagai mitra kerja konselor, juga memiliki tugas-tugas bimbingan, yaitu:
1.      Membantu guru pembimbing melaksanakan layanan yang menjadi tanggungjwabnya,
2.      Membantu memberikan kesempatan dan kemudahan bagi siswa, khususnya di kelas yang menjadi tanggungjawabnya, untuk ikut layanan bimbingan,
3.      Memberikan informasi tentang siswa di kelasnya untuk memperoleh layanan bimbingan dari guru pembimbing,
4.      Menginformasikan kepada guru mata pelajaran tentang siswa yang perlu mendapat perhatian khusus, dan
5.      Ikut serta dalam konferensi kasus.
Setiap orang yang terlibat dalam organisasi bimbingan itu mampu dan dapat menjalankan tugas, tanggungjawab, serta wewenangnya dengan sebaik-baiknya, diperlukan kegiatan untuk mengarahkan kegiatan bimbingan dan konseling.
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas penulis menyimpulkan
1.      Pengorganisasian dalam program layanan bimbingan dan konseling adalah usaha untuk melibatkan elemen-elemen sekolah untuk ikut serta dalam organisasi bimbingan sekolah.
2.      Tujuan dari pengorganisasian bimbingan konseling agar terjadi hubungan efektif antara personel sehingga mereka dapat bekerja secara efisien dan mendapat kepuasan pribadi dalam menjalankan tugasnya.
3.      Dalam pengorganisasian diperlukan pemahaman mengenai prinsip-prinsip organisasi yang harus dipenuhi oleh setiap elemen-elemen sekolah.
4.      Setiap elemen-elemen sekolah perlu memahami tugas yang berkaitan dengan kegiatan layanan bimbingan dan konseling di sekolah

B.     Saran
Adapun saran yang diberikan penulis sebagai berikut.
1.      Perlu dilakukan pengorganisasian bimbingan  konseling secara intensif dan teratur di sekolah agar tujuan dari bimbingan konseling terpenuhi,
2.      Perlu dikaji kembali agar pengorganisasian bimbingan dan konseling dapat berjalan secara efektif dan menyeluruh sehingga dapat memberikan layanan kepada siswa,
3.      Pengorganisasian bimbingan dan konseling dapat dijadikan sebagai salah satu cara mengatasi masalah-masalah pendidikan di sekolah melalui kegiatan bimbingan yang terorganisir dan melibatkan banyak elemen-elemen pendidikan di sekolah.



DAFTAR PUSTAKA

Juntika, Ahmad.2006.Bimbingan dan Konseling.Bandung:Aditama.
Gunawan.(2012).Bimbingan dan Konseling.[Online]. Tersedia:
Elbaihaqi.(2012).Prinsip-prinsip Organisasi Bimbingan Konseling.[Online].Tersedia:
Jeyho.(2012).Tujuan,Fungsi, Manfaat BK di sekolah Menengah.[Online].Tersedia:

Sabtu, 06 April 2013

refraksi gelombang

a. Pengertian Refraksi Gelombang Refraksi gelombang (pembiasan gelombang) adalah peristiwa adanya pembelokan arah rambat gelombang saat melewati medium yang memiliki kerapatan (indeks bias) berbeda. Misalnya saat sinar yang melalui udara masuk ke dalam air. Sebagian sinar yang melewati batas antara medium yang berbeda kerapatannya akan dipantulkan oleh permukaan dan ada sebagian sinar masuk ke medium air, akan mengalami pembelokan. Dari gambar di atas θ_1adalah sudut sinar datang lalu saat melewati batas medium yang berbeda kerapatan maka θ_1'adalah sudut sinar yang dipantulkan dan θ_2 adalah sudut refraksi (sudut bias).
  
b. Berdasarkan pembiasan hukum snellius: -Sinar yang dipantulkan dan sinar yang dibiaskan berada pada satu bidang. Garis normal sebagai bidang batas antar keduanya. -sinar datang dari medium yang memiliki kerapatan medium (indek bias) lebih kecil ke indeks bias yang lebih besar maka sinar akan dibelokkan mendekati garis normal dan berlaku sebaliknya. -Pada pembiasan berlaku: perbandingan sudut datang dan sudut bias selalu konstan sin⁡θ_1/sin⁡θ_2 =n_1/n_2 =n_21 maka hukum pembiasan dapat ditulis n_1 〖sinθ〗_1=n_2 〖sinθ〗_2 dengan indeks bias suatu medium sebagai berikut. n=c/v ket: c= laju cahaya di ruang hampa v = laju cahaya pada suatu medium

 c. Fenomena Alam pada Peristiwa Refraksi Gelombang Fenomena lain saat kita berada di tepi pantai kita melihat gelombang laut dari tengah pantai menuju garis pantai memiliki arah yang berbeda-beda. Saat mendekati garis pantai gelombang laut menyesuaikan dengan arah garis pantai. Ternyata peristiwa seperti ini ada kaitannya dengan peristiwa refraksi gelombang. Garis pantai adalah batas antara dua medium air dan pasir. Ternyata selain dilihat secara kasat mata perbedaan arah gelombang laut dar tengah laut ke tepi pantai, kita juga dapat mengetahui bahwa laju gelombang yang berbeda. Kenapa berbeda? Karena air laut akan semakin dangkal jika berada di tepi laut sehingga laju gelombang akan berbeda antara di tengah laut dan di tempat dangkal. Laju gelombang menjadi penyebab pembelokan (refraksi gelombang). Pada gelombang laut yang dangkal maka laju gelombang pun akan berkurang sehingga akan mensejajarkan arah gelombang saat melewati garis pantai. Lihat gambar di bawah ini. Dari gambar tersebut gelombang yang lebih dulu sampai pada bagian dangkal laut akan mengalami laju yang berkurang dan gelombang yang masih berada di bagian dalam tidak berkurang laju gelombangnya. Perhatikan gambar pada saat gelombang masih berada di bagian dalam jarak a ke b dan a’ ke b’ sama tetapi saat b lebih dahulu memasuki bagian dangkal laut sedangkan b’ masih di bagian dalam laut maka karena laju berkurang dalam waktu yang sama sehingga jarak dari b ke c menjadi pendek dan jarak b’ ke c’ tetap sama. Akibat dari berkurangnnya laju saat memasuki daerah yang lebih dangkal sehingga terjadi pembelokan gelombang secara terus menerus sampai terjadi pensejajaran arah saat berada di garis pantai. Sebenarnya pada peristiwa refraksi gelombang terdapat dua kemungkinan. Pertama jika kelajuan gelombang berkurang saat melewati medium yang berbeda maka sudut bias (sudut antara sinar yang dibentuk dari pembelokan dengan garis normal) akan lebih kecil dibandingkan dengan sudut datang. Kedua sudut bias jika laju gelombang bertambah saat melewati medium yang berbeda maka sudut bias akan lebih besar dari sudut datang. Dapat disimpulkan dari contoh fenomena yang terjadi pada pergerakan gelombang air laut dari bagian tengah laut ke tepi pantai maka sudut bias akan lebih kecil daripada sudut pantulnya karena laju gelombang berkurang saat memasuki daerah laut yang lebih dangkal.

 Referensi: Tn. 2012.Pembiasan Gelombang. [Online]. Tersedia: http://indo-fisika.blogspot.com/. [6 April 2013 pukul 5.37]. Retno,Paramitha.2011. Pembiasan Gelombang. [Online]. Tersedia: http://justmyth.wordpress.com/2011/11/01/pembiasan-gelombang/ .[6 April 2013 pukul 5.37].

semangat baru.... kembali untuk mulai menulis

terakhir menulis blog bulan desember 2012... trus kemana aja 3 bulan ini,, eng ing eng,,, dari sekarang kembali memulai meluapkan ide , inspirasi dan pengalaman hidup di blog,,, welcome my blog... mari berkarya,, " sebenarnya tidak ada yang tidak bisa menulis tulisan apalagi bagi seorang mahasiswa" kenapa? karena kita dituntut untuk bisa menguraikan apa yang ada dipikiran kita dalam bentuk tulisan kan, mau nulis skripsi, jadi mulailah dari sekarang ya harus hobi tulis-tulis,,, bukan hanya itu inget salah satu impian mu untuk jadi seorang penulis inspiratif, so, perlu dari sekarang donk berusaha untuk mewujudkan impian itu,,, bismillah,,,

Jumat, 28 Desember 2012

success story

Assalamu’alaikum. Wr.Wb A. Journey Menuju Langkah Besar Kesuksesan
Jika setiap yang terjadi dalam kehidupan kita adalah kumpulan dari pilihan-pilihan yang kita pilih sebelumnya. Memang selalu ada hukum sebab-akibat dalam setiap kehidupan yang terjadi sesuai dengan hukum Newton III bahwa ada aksi maka ada reaksi. Mozaik-mozaik dari setiap pilihan kita sebagai aksi yang akan menimbulkan reaksi. Kesuksesanku saat ini adalah sesuai dengan hukum aksi reaksi itu dengan ada aksi lain dari sebagai gaya luar yang mempengaruhi setiap aksi yang aku lakukan untuk mencapai kesuksesan tersebut. Saat pendidikan pesantren dianggap tidak bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman, tidak bisa memfasilitasi pendidikan anak-anaknya untuk menjadi manusia unggulan yang hebat secara intelektual, dan tidak bisa masuk perguruan tinggi kelas elit. Namun tidak bagi keluargaku. Aku calon Hj. Annisa Permata Sari, M.Pd, Lc (amin). Pendidikan pesantren bagi keluargaku terutama mamahku yang tulus mencintai anaknya, ingin agar anaknya tidak hanya cerdas secara intelektual tapi juga memiliki bekal agama yang memadai sehingga menjadi insan sukses yang berakhlak mulia. Dialah ibu terhebat, sosok motivator dalam hidupku, ibu sekaligus guru dalam mengarungi hidupku. Melihat sahabat-sahabat masuk SMP favorit ada gejolak dan prasangka saat ibuku menyuruhku untuk masuk pesantren. Kayaknya seperti di sinetron-sinetron tiba-tiba datang setan dan malaikat cekcok berebut untuk membisikan sesuatu ke telingaku, “wah, kacian ya ibumu sudah tidak sayang lagi sama kamu makannya kamu dibuang ke pesantren bilang aja ga mau gitu” bisik setan. Malaikat bilang,“ tidak nak yakin itu yang terbaik bagimu dia kamu menjadi anak yang sholehah dan memiliki banyak teman di tempat yang jauh dari rumah”. Galau (god always listening always understanding) melanda, ‘bismillah…Alloh mengetahui yang terbaik untuk hamba-Nya’. Antara rumah dan pesantren sangat jauh perjalanan Garut-Tasikmalaya tapi ibuku mengantar aku ke pesantren Al-Furqon Tasikmalaya untuk testing. Tak banyak harap untuk masuk atau tidak aku yakin hasilnya nanti adalah yang terbaik bagiku. Ternyata aku lulus seleksi testing. Ada rasa bahagia dalam diri ada rasa sedih juga akan hidup jauh dari rumah. Saat itu cap seorang santri terpatri dalam diri. Kalau bukan santri mana mungkin bisa dapat beasiswa PBSB (Penerimaan Beasiswa Santri Berprestasi), bisa kuliah di Universitas Pendidikan Indonesia, punya banyak teman dari berbagai daerah. Jika pressback ke masa pesantren teringat kembali saat masuk pesantren begitu banyak pengorbanan yang diberikan ibuku, uang, tenaga, pikiran segalanya dia berikan agar aku bisa betah di pondok. Bagaimana perasaan dan dugaan tidak mungkin bisa betah tapi ternyata pesantren tidak seburuk yang ada dibayangkan. Suka, duka, teman-teman semuanya menjadi sesuatu yang dirindukan saat setelah keluar dari pondok. Kalau ada acara kumpul alumni menjadi kebahagiaan tersendiri untuk datang dan bertemu teman-teman seperjuangan selama enam tahun di sana. Semua pengorbanaan ibuku selama aku hidup di pondok, do’amu dalam setiap tahajud-tahajudmu mamah, dan berbagai hal yang engkau berikan untuk anakmu ini, seakan pecah bak momentum tumbukan yang terjadi pada bola billiard yang saling bertumbukan saat melihat di www.pondok pesantren.net di situ terpampang nama anaknya sebagai orang yang lolos seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri. Menjadi suatu kebanggaan bagi mamah dan bapaku. Mereka dengan bangganya menceritakan bahwa anaknya dapat beasiswa kuliah di UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) kepada keluarga, teman, tetangga, atau bahkan mungkin seantero jagat rayapun tahu. Ada rasa bangga tersendiri, ketika melihat ibuku memelukku mengucapkan selamat padaku, bibirnya merekah manis tersenyum kepadaku seakan semua beban yang dialaminya selama ini koncah terhapuskan dan berjuta harapan terpatri dalam diri bahwa “aku tidak boleh mengecewakan kedua orang tuaku sungguh takdir-Mu Ya Rabb sangat indah pada waktunya, mungkin kalau dulu aku menolak untuk sekolah di pesantren belum tentu dapat beasiswa di UPI jurusan Pendidikan Fisika, semoga bisa sukses dunia akhirat, lulus 4 tahun S1 di UPI dengan Cumlaude di tahun 2015 (amin ya Rabbal’alamin)”. Memang benar hidup terdiri dari pilihan-pilihan dan kita saat ini hasil dari pilihan-pilihan yang kita lewati sebelumnya. Serasa menjadi orang yang paling beruntung, karena menjadi orang pertama dari pesantrenku yang bisa masuk PBSB dan dapat lulus diantara sekian banyak yang daftar beasiswa ini. Terekam kembali suasana di kelas saat pelajaran Biologi, guru Biologi berkata, “ saat lahirpun kita sudah menjadi pemenang” bisa menjadi pemenang diantara berjuta-juta sperma yang berusaha melewati semua hambatan dan rintangan untuk bisa menjadi sang pemenang dan hanya satu pemenang yang lolos. Itu aku. Mungkin atmosfer menjadi pemenang pada saat lulus seleksi PBSB seperti halnya saat menjadi pemenang lomba marathon di rahim ibu dulu.lol Lomba marathon itu sama halnya saat bersama teman-teman testing di MAN 1 Cijerah Bandung. Bersama ke enam temanku dan kepala sekolah yang mengantarkan kami sekaligus yang mengemudi mobil yang kami naiki untuk testing. Rela tidur berdesak-desakan di dalam mobil karena tidak ada tempat untuk menginap di H-1 testing PBSB. Tak tega melihat kepala sekolah kami yang tidur di luaran masjid karena saking banyaknya orang-orang yang ada di masjid untuk testing besok. Akhirnya selama menunggu pengumuman lulus atau tidaknya di PBSB ibuku pun mendaftarkanku untuk SNMPTN. Saat itu adalah hari terakhir pendaftaran SNMPTN. Pokoknya benar-benar ibuku memberi dukungan penuh untuk tetap semangat dan selalu bertawakal pada Alloh SWT. Satu hari sebelum hari tes SNMPTN dilaksanakan, tiba-tiba temanku memberitahukan bahwa nama Annisa Permata Sari ada di daftar orang-orang yang masuk UPI lewat jalur PBSB. Alhamdulillah di hari Khataman adalah hari yang ditunggu-tunggu tapi juga hari detak-detik tirai putih abu-abu berlalu. Enam tahun sudah berjuang bersama-sama teman-teman di pondok akhirnya mencapai titik finish juga. Tapi tidak akan kacang lupa akan kulitnya pasti akan kembali ke pondok setelah empat tahun berlangsung kuliah dan lulus. Suka duka bersama teman-teman selama di pondok kenangan yang tak akan terlupa. Ada pertemuan pasti ada perpisahan. B. Kehidupan Kampus Bahagia sekali bisa memakai masuk Perguruan tinggi dan bisa lulus tepat 4 tahun di tahun 2015 nanti (amin ya Rabbal’alamin) memakai toga. Memakai toga adalah suatu kehormatan bahkan ada kebangga tersendiri. Menurut yang saya tahu ada alasan kenapa warna toga hitam, topi wisuda berbentuk segi lima dan saat wisuda ada ritual pemindahan tali topi dari kiri ke kanan tenyata ada makna dari setiap hal tersebut. Kenapa toga tidak warna putih? Ya mungkin kalau warna putih toge namanya. Krik..krik.. Ternyata warna hitamnya itu adalah lambang kehormatan pada bangsawan pada waktu dulu Karena tidak semua orang bisa memakai toga hanya orang-orang tertentu, topi toga yang berbentuk segi lima melambangkan bahwa harus memiliki pengetahuan lebih banyak dari yang lain dan memiliki pendirian serta pemikiran yang kreatif dan berbeda-beda sehingga wawasan yang dimilikinya luas. Terus ritual pemindahan tali topi dari kiri ke kanan yaitu sebagai lambang akan adanya perubahan pemikiran dari otak kiri yang dominan terhadap kerja intelektual akan berubah menjadi perkembangan daya kreatif sesuai dengan kerja otak di sebelah kanan yaitu kecerdasan emosional dan seni. Sehingga diharapkan mampu menciptakan perubahan-perubahan yang dilandasi pengetahuan, kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual. Maka rasa bahagia memiliki kesempatan untuk menjadi agen of change dan memiliki kehormatan seperti arti dari semua hal tentang toga wisuda. Saat pertama kuliah banyak sekali hal yang perlu adaptasi dengan perubahan yang terjadi dari santri ke mahasiswa walaupun sebenarnya title santri itu abadi. Mulai dari kehidupan kampus, lingkungan yang berbeda, gaya hidup, tantangan dan problema yang terjadi. Dulu menjadi orang yang berpengaruh di kelas atau bisa berprestasi di kelas dapat diraih dengan mudah namun sekarang perlu ektra usaha kalau tidak mau tertinggal karena yang dihadapi adalah orang-orang dari berbagai sekolah unggulan dan berbagai daerah yang berbeda-beda. Tapi aku tetap bangga menjadi santri, bismillah tidak ada perbedaan dan tak usah minder karena toh sama-sama makan nasi, kalau memang basic sekolah mereka unggulan maka kita bisa jadi unggulan dunia akhirat (amin) selangkah mereka maka kita harus lari untuk mengejar langkah mereka. Perbedaan gaya hidup dan lingkungan berbeda 1800biasanya dengan mudah mendapatkan seonggok nasi tinggal turun ke dapur minta ke bibi dapur dapat jatah 2 lauk atau lebih tapi sekarang kalau mau makan perlu mikir-mikir, nyari-nyari terlebih dahulu. Gaya hidup pun berbeda jika dulu nyantai tapi sekarang harus gesit. Untung sekali banyak teman-teman yang hebat dan lebih religious dari aku padahal bukan basic pesantren, mereka menjadi pengingat dikala futur dan pemberi motivasi. Jadi dari segi lingkungan dan gaya hidup perlu banyak dukungan dan tidak asal-asalan memilih teman tapi jangan pilih-pilih juga sehingga tidak mau bergaul dengan orang lain. Karena teringat pesan mudirun ma’had pas masuk kelas dulu ‘ kamu bertanggung jawab akan keislaman di manapun kamu berada’. Rintangan selanjutanya adalah waktu walaupun waktu yang dimiliki setiap orang sama 24 jam namun penyesuaian dan pembagian waktu yang sulit dan menggelitik terjadi dalam deadline tugas kuliah dan kewajiban menjadi khalifah di muka bumi ini serta tujuan utama beribadah kepada Alloh SWT sering tidak bisa terkontrol dengan baik. Niatkan semua dengan baik karena kita sendiri yang akan membawa diri kita mau dibawa kemana. Berharap bisa dapat ilmu dari pencarian ilmu di kota orang ini berkah untuk kehidupan semua orang. Faham ilmunya dan dapat menjadi tambah dekat dengan Alloh SWT. Jika dibilang jurusan fisika itu susah memang susah tapi ini jurusan yang saya mau sewaktu MA dan saya memilihnya maka tinggal menjalankan dan mempertanggung jawabkan pilihan saya tersebut. Love FISIKA karena lebih nyata dan banyak hal yang dapat saya dapat baik ilmunya, dosennya yang luar biasa hebat, teman-teman yang top abis dan menyenangkan. Bismillah Guru professional muslimah insya ALLOH dapat saya raih, dan efek keberhailan saya bisa berdampak bagi orang banyak. Untuk orang tua saya saya ingin bisa berangkat haji dan menghajikan kedua orang tua saya dengan rejeki yang Alloh berikan kepada saya, menyekolahkan adik saya sampai lulus S1, lulus 4 tahun di tahun 2015, dan bermanfaat bagi sesame manusia.(amin). C. Bhaktiku untuk Pondokku Perlu adanya suatu hal yang ditingkatkan di pesantren tempat saya mengabdi. Beberapa hal yang akan saya lakukan sebagai santri yang pernah tinggal di tempat tersebut. Karena saya lulusan dari Perguruan Tinggi Negeri UPI yang bernotabene setiap jebolannya adalah berkaitan dengan dunia pendidikan maka inovasi yang ingin dilakukan selama mengabdi di pondok adalah hal-hal yang berbasis pendidikan dan beberapa hal dianggap perlu untuk ditingkatkan yaitu sebagai berikut. 1. Ingin Menerapkan Kurikulum Al Azhar Kairo dalam Beberapa Mata Pelajaran Pesantren Al Furqon Singaparna-Tasikmalaya adalah pesantren modern Gontor yang kesehariannya menggunakan billigual language. Maka perlu adanya peningkatan basic bahasa karena di pondok kami ‘language is our crown’ berarti sesuatu yang penting untuk dijaga. Namun selama tinggal di sana dulu banyak anak-anak sering melanggar aturan menggunakan bahasa Inggris dan Bahasa Arab dalam percakapan sehari-hari. Maka dari itu saya ingin meningkatkan mutu bahasa di pesantren saya terutama bahasa Arab yang merupakan bahasa Al-Qur’an dan bahasa yang banyak dicari di era sekarang ini. Menggunakan kurikulum Al Azhar Cairo untuk mata pelajaran Bahasa Arab, Islamic Studies dan Tahfidz Al Qur’an. Sedangkan untuk kurikulum Diknas tetap berorientasi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Sehingga dengan harapan dapat meluluskan siswa berkualitas dengan cara: Menanam sejak dini nilai-nilai Islam yang bersifat universal, menjadikan Al Qur’an hidup di dalam pribadi anak dengan program tahfidz (penguasaan 18 juz dalam 6 tahun, dengan metode Al-Azhar Mesir) walaupun sebenarnya dari dulupun sudah ada program hafalan 6 juz selama 6 tahun namun terasa tidak ada pemahaman dan pengkajian khusus isi yang terkandung dalam Al-Qur’an dan pembendaharan kosa kata bahasa Arab dari Al-Qur’an oleh sebab itu perlu ditingkatkan program hafalan yang telah ada ini dengan melihat cara yang diterapkan oleh Al-Azhar Kairo, menjadikan anak akrab dengan Bahasa Arab standar (penguasaan 2000 kosa kata) karena seringnya menggunakan bahasa Arab di mata pelajaran Bahasa Arab, Islamic Studies dan Tahfidz Al Qur’an walaupun sebenarnya pondok saya pun dalam pembelajaran beberapa mata pelajaran pondok sudah menggunakan bahasa Arab sebagai pengantar pendidikan namun alangkah lebih baiknya jika berstandarkan bahasa Arab Internasional atau kalau perlu ada dosen langsung dari Al- Azhar yang mengajarkannya sehingga selain sesuai dengan dengan bahasa Arab yang sering digunakan di Arab dan beberapa Negara berbahasa arab juga dengan mudah lulusan pesantren Al-Furqon bisa menempuh jenjang yang lebih tinggi bertaraf Internasional misalnya dapat meneruskan kuliah di Kairo. Adapun penerapkan hafalan Al Qur’an dengan target menguasai 18 juz, menggunakan metode Al-Azhar Cairo yang pernah saya baca yaitu: Metode Talaqqi (langsung dibacakan oleh guru dan diikuti oleh murid), Metode Baca Bersama (untuk mengulang), Metode Saling Bersambut (untuk mengulang), Metode Baca Tulis (bagi siswa di atas kelas III), Metode melalui Multi Media (komputer). 2. Ingin Mengurangi Vandalisme dengan Cara Grafiti Dari pengalaman yang saya rasakan selama di pondok banyak sekali bakat seni yang terpendam dalam diri santri namun tidak tereksplorasi dengan baik sehingga cenderung melakukan vandalisme yaitu mencorat-coret fasilitas umum berupa perusakan atau menjadikan jelek dengan sengaja terhadap benda-benda yang indah serta benda-benda yang menjadi fasilitas umum atau milik pribadi. Maka bakat-bakat seni yang dimiliki santri itu perlu dikembangkan dan disediakan tempat sehingga tidak dirasa perbuatan yang tidak baik dengan menggambar, atau mencorat-coret di tempat fasilitas umum, di tembok dan di meja kelas. Untuk mengendalikan tindakan vandalism dalam hal ini graffiti dapat mengapresiasikan bakat seni santri dengan cara menyediakan dinding-dinding untuk graffiti. Di pondok saya ada dinding-dinding yang menurut saya lebih baik dihiasi dengan graffiti. Pada dasarnya graffiti adalah seni dan berkaitan dengan keindahan dekorasi, namun remaja saat ini menggunakan potensinya yang positif tersebut tidak pada tempatnya. Ini disebabkan karena tidak adanya lingkungan yang positif tempat mereka menyalurkan potensi mereka sehingga dianggap merusak fasilitas dengan corat-coret mereka. Kegiatan ini diharapkan mampu mengembangkan kreativitas santri kearah yang lebih positif. Salah satu inovasi tersebut adalah dengan membuat coretan-coretan di pagar sekolah yang berisi tentang pelajaran, kata- kata mutiara atau kaligrafi. 3. Ingin Pembina Pengembangan Ekstrakulikuler Jurnalistik Al-Furqon Post Al-Furqon Post, merupakan salah satu ektrakulikuler di pesantren saya dan saya alpernah mengikuti serta menjadi ketua ekstra kulikuler tersebut. Maka dari itu ingin sekali melakukan pengembangan ekstrakulikuler ini. Ekstrakulikuler Al-Furqon Post ini ada di bidang jurnalistik yang kegiatannya hanya berkutat di mading saja karya yang dihasilkannya. Saya ingin mengembangkan ektrakulikuler ini dengan cara melatih para santri sehingga dirasakan seperti sang jurnalis yang sebenarnya, merutinkan kembali pembuatan majalah atau buletin pondok, memantau setiap hal demi pengembangan santri di bidang kepenulisan dan jurnalistik. Dirasakan oleh saya sendiri bahwa hal-hal yang berupa karya-karya tulis adalah hal penting yang harus dikuasai oleh kita karena selama masuk Perguruan Tinggi pembuatan tulisan baik berupa makalah, jurnal, laporan praktikum, bahkan skipsi, mengedit dan menyusunan tulisan adalah sesuatu yang sering dilakukan selama kuliah maka perlu pelatihan sejak dini salah satunya dengan pengembangan ektrakulikuler jurnalistik ini. Yakinlah bahwa apa yang kita lakukan akan berdampak pada kehidupan kita berikutnya. Perlu adanya kejadian yang bisa menjadi langkah besar menuju kesuksesan itu. Perlu adanya perjuangan, ada hal yang dikorbankan, dan tentu tidak terlepas dari gaya luar yang diberikan orang-orang disekitar kita (mamah inilah jawaban atas do’a di setiap sholat malammu). Langkah-langkah kecil itulah yang akan mengantarkan kita kepada langkah besar kesuksesan. Sekian… Wa’alaikumsalam. Wr.Wb November 2012 ANNISA PERMATA SARI

mother's day

Mother’s Day “Mah, aku mencintaimu karena Alloh…” Seorang sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, siapa yang paling berhak memperoleh pelayanan dan persahabatanku?" Nabi Saw menjawab, "ibumu...ibumu...ibumu, kemudian ayahmu dan kemudian yang lebih dekat kepadamu dan yang lebih dekat kepadamu." (Mutafaq'alaih). Ibu setiap hari adalah hari ibu bukan hanya tanggal 22 Desember saja. Begitu Alloh menyayangimu wahai ibu sampai dalam hadist pun siapa yang berhak memperoleh pelayanan dan persahabatan. Rasulullah menjawab 3 kali berturut-turut, ibumu…ibumu…ibumu…kemudian ayahmu. Hari ibu tidak ada hari ayah. Semua orang di dunia ini mengakui dahsyatnya kasih sayang seorang ibu sampai diperingati hari ibu sedunia. Karena engkau adalah orang yang kuat, kerelaamu dan kasih sayangmu yang tiada tara untuk anak-anakmu. Surga ada di telapak kaki ibu saking benar-benar kemudahan dan kesuksesan seorang anak ada pada setiap ridho ibunya. Terima kasih untuk seluruh ibu di dunia ini, terutama untuk mamah saya tercinta… tanpamu aku takkan seperti ini ku yakin semua orang tidak akan seperti ini tanpa dekapan kasih ibu mereka. Jika dulu saat melahirkanku kau memilih yang anak saya yang hidup maka jika pilihan itu dating padaku saat ini biarlah aku yang harus pergi. Tetaplah engkau menjadi ibu untuk anak-anakmu yang lain. Ingin rasanya selalu bisa membuatmu tersenyum bangga padaku Janjiku padamu, mah… aku takkan mengecewakanmu, aku bisa membuatmu bangga padaku. Do’akan anakmu ini supaya bisa menjadi orang sukses dunia akhirat. Ya Alloh, kabulkan do’aku untuk selalu membahagiakan kedua orang tuaku, bisa pergi ke Mekah bersama mamah dan bapa, bisa menyekolahkan adikku sampai sarjana, bisa lulus S1 di UPI ini tahun 2015 di wisuda gelombang 1, mudahkan setiap langkahku, bisa menjadi guru yang memberikan yang terbaik untuk anak didiknya kelak, membuat mereka paham, mengerti, senang belajar denganku, akupun tidak asal-asalan dalam menyampaikan pelajaran kepada mereka oleh sebab itu saat aku mencari ilmu (kuliah ini) apa yang aku baca, dengar, rasakan, lihat dll bisa aku mengerti dan paham sehigga aku bisa amanah dalam menyampaikan ilmu yang telah ku dapat kepada anak-anak didikku,,, mudahkan ya Alloh,,, amin ya Rabbal’alamin…. Ibu terima kasih atas do’a-doamu di setiap sholat malammu…

Minggu, 28 Oktober 2012

definisi kurikulum menurut para ahli

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA UJIAN TENGAH SEMESTER (TAKE HOME EXAMINATION) Nama : Annisa Permata Sari NIM : 1106506 Prodi : Pendidikan Fisika/ B Pertanyaan: 1. Terdapat beberapa definisi kurukulum: a. Kemukakan beberapa definisi kurikulum menurut para ahli (minimal 5) b. Bagaimana pula pendapat anda tentang pengertian kurikulum sendiri? 2. Pada saat mengembangkan model kurikulum, perlu dipertimbangkan dan diperhatikan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum. a. Sebutkan dan jelaskan makna dari prinsip-prinsip dasar pengembangan kurikulum yang telah anda pelajari! b. Jelaskan salah satu model pengembangan kurikulum dan gambarkan bagaimana prinsip-prinsip kurikulum yang diterapkan dalam pengembangan model kurikulum tersebut! c. Mengapa dalam mengembangkan kurikulum, selalu didasari oleh landasan filosofis, psikologis, social budaya, dan pengembangan ilmu dan teknologi? 3. Komponen –komponen kurikulum bersifat general bagi setiap bidang studi. Jelaskan penerapan masing-masing komponen kurikulum di dalam bidang studi yang anda tekuni saat ini! 4. Jelaskan gambar di bawah ini menurut pemahaman anda tentang “dimensi kurikulum”. ideal kurikulum Hidden Curriculum potential curriculum Actual Curriculum 5. Kurikulum itu sesuatu yang statis dalam bentuk bahan pelajaran yang diberikan guru, kurikulum dapat bersifat dinamis itu jika dapat menyentuh dan mendorong respons anak secara aktif dan positif. Persoalannya adalah bagaimana kurikulum yang bersifat pasif itu menjadi sesuatu yang benar-benar dapat mendukung keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran menjadi benar-benar aktif. Jelaskan menurut pendapat anda! 6. Akhir-akhir ini kembali mencuat kasus tawuran antar pelajar yang menjadi “pukulan keras” untuk dunia pendidikan di Indonesia. Komisi Nasional Perlindungan Anak mencatat dalam enam bulan terakhir di Jabodetabek sedikitnya terjadi 140 kasus tawuran antar pelajar. Bahkan untuk satu bulan terakhir (September-Oktober 2012) tercatat adanya beberapa pelajar yang menjadi korban meninggal dalam perkara pembunuhan pada kasus tawuran tersebut. a. Bagaimana analisis anda berkenaan dengan kasus tawuran antar pelajar ini, mengingat kasus ini sudah menjadi tradisi yang saat ini penanganannya belum memperlihatkan hasil yang lebih baik. b. Dimanakan posisi central kurikulum dalam menangani kasus tawuran antar pelajar ini? JAWABAN: 1. A. definisi kurikulum menurut para ahli: • Menurut B. Alberty (1965) memandang kurikulum sebagai semua kegiatan yang diberikan kepada siswa di bawah tanggung jawab sekolah (all of the activities that are provided for the students by the school). • Menurut Saylor, Alexander dan Lewis (1974) kurikulum sebagai segala upaya sekolah untuk mempengaruhi siswa supaya belajar, baik dalam ruangan kelas, di halaman sekolah maupun di luar sekolah. • Menurut Henry C. Morrison (1940)…. The contentsof instruction without reference to instructional ways or means. • Menurrut Franklin Bobbit (1924)….that series of things which children and youth must do and experience by way of developing abilities to do the things well that make up affairs of adult life and to be all respect what adult should be. • Menurut Schiro (1978)kurikulum sebagai proses pengembangan peserta didik yang diharapkan terjadi dan digunakan dalam perencanaan • Menurut Robert Gagne (1967) kurikulum adalah suatu rangkaian unit materi belajar yang disususn sedemikian rupa sehingga anak didik dapat mempelajarinya berdasarkan kemampuan awal yang dimiliki atau dikuasai sebelumnya. Dikutip oleh Ahmad,dkk (1988:hal 14) • Menurut saylor (1956) a curriculum is total effort of the school to going about dsired out comes in school and out of school situatioan. Kurikulum sebagai usaha maksimal dari sekolah unutk mencapai hasil yang diinginkan di dalam sekolah atau di luar sekolah. Dikutip oleh Nana sukma Dinata (1998: hal 3) • Menurut S Hamid Hasan (1988) mengemukakan bahwa ikstilah kurikulum memiliki empat dimensi pengertian yaitu kurikulum sebagai ide/gagasan, kurikulum sebagai suatu rencana tertulis, kurikulum sebagai suatau realita/ implementasi kurikulum, dan kurikulum sebagai suatu hasil. B. Menurut saya kurikulum adalah acuan yang di dalamnya harus terdapat ide sehingga dapat menjadi pedoman bagi perkembangan kurikulum berikutnya, terdapat rencana sehingga rencana tersebut dapat sesuai dengan kebutuhan saat ini berupa kegiatan yang tidak hanya terbatas pada kegiatan di tempat dalam kelas saja tetapisesuai dengan minat dan bakat siswa serta diharapkan mampu mempersiapkan siswa untuk melanjutnya studi ke jenjang berikutnya dan dihasilkan output yang memadai sebagai hasil dari kurikulum tersebut. 2. A. Prinsip-prinsip pengembangan kurikulum dibedakan menjadi dua kategori yaitu: prinsip umum dan prinsip khusus • Prinsip umum yaitu asas atau sesuatu yang biasa ada, digunakan pada setiap pengembangan kurikulum dimanapun sehingga dalam proses pengembangan kurikulum akan berjalan efektif dan efisien jika bekerja dengan memperhatikan prinsip-prinsip umum tersebut. Menurut Sukmadimanata (2000:150-151) terdapat lima prinsip umum pengembangan kurikulum yaitu: prinsip relevansi, prinsip fleksibilitas, prinsip kontinuitas praktis dan efektifitas.. 1. Prinsip relevansi sebagai kesesuaian ada dua yaitu relevansi eksternal dan relevansi internal. Relevansi eksternal yaitu kurikulum harus mampu menyesuaikan dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat masa kini mauapun prediksi masa yang akan datang sehingga dapat menyiapkan anak untuk bisa beradaptasi dengan masyarakat dan kondisi dimanapun mereka berada. Relevansi internal yaitu sesuai dengan perangkat komponen itu sendiri karena ketidaksesuaian dengan komponennya sendiri maka kurikulum tidak akan mencapai tujuan secara optimal. 2. Prinsip Fleksibilitas berarti lentur (tidak kaku) kurikulum harus mampu menggunakan metode atau cara tertentu yang sesuai dengan kondisi tertentu, tempat dimana kurikulum itu diterapkan walaupun sesuai jenjang tapi dalam pelaksanaannya harus fleksibel. 3. Prinsip Kontinuitas artinya berkesinambungan anatar kelas maupun antar jenjang sehingga tidak terjadi pemborosan waktu atau ada konsep prasayarat sebelumnya yang belum terpenuhi dan terhindar dari pengulangan-pengulangan. 4. Prinsip praktis atau efisien, prinsip praktis berarti mudah diterapkan sesuai dengan keadaan yang ada di tempat di manapun kurikulum itu akan digunakan salah satu criteria praktis adalah efisien sehingga tidak mahal atau murah tetapi tidak murahan dan disesuaikan dengan keadaan pada umumunya. 5. Prinsip Efektifitas, kurikulum selalu melihat tujuan tertentu yang ingin dicapai sehingga dibutuhkan jenis dan karakteristik tujuan yang jelas dengan kejelasan tujuan maka akan mengarahkan dan memudahkan dalam implementasi kurikulum itu sendiri. • Prinsip khusus adalah prinsip yang hanya berlaku di tempat tertentu atau situasi tertentu sehingga antara satu wilayah dengan wilayah lainnya, antar jenjang satu dengan yang lainnya akan berbeda dalam beberapa aspek. 1. Prinsip yang berkenaan dengan tujuan pendidikan, tujuan tersebut bersumber dari ketentuan pemerintah, survey persepsi orang tua dan masyarakat, survey para ahli, survey tentang SDM, pengalaman Negara lain yang memiliki permasalahan sama serta hasil penelitian. 2. Prinsip yang berkenaan dengan isi pendidikan, dengan memperhatikan isi dari penjabaran yang rinci harus meliputi pengetahuan, sikap dan keterampilan. 3. Prinsip berkenaan dengan proses pembelajaran, untuk menentukan strategi dan teknik yang digunakan dalam proses pembelajaran tersebut. 4. Prinsip berkenaan dengan media atau alat bantu pembelajaran, penggunaan media atau alat bantu pembelajaran yang mendukung dalam proses pembelajaran yang efektif dan efisien. 5. Prinsip yang berkenaan denga evaluasi, dalam prakteknya harus memperhatikan pengembangan kurikulum dalam kegiatan evaluasi yang meliputi perencanaan evaluasi, pengembangan alat evalusi, pengumpulan data, pengolahan hasil evaluasi, laporan dan memanfaatan hasil evaluasi. B. Model Tyler C. karena dengan dilandasi dengan landasan pokok maka kurikulum akan berperan sesuai dengan tuntunan pendidikan yang ingin dihasilkan seperti tercantum dalam rumusan tujuan pendidikan nasional seperti dengan adanya • landasan filsafat maka akan dapat menentukan arah ke mana peserta dididk itu akan dibawa sehingga penerapan dari pemikiran filsafat itu akan akan mampu memecahkan permasalahan pendidikan • landasan psikologis sehingga dalam perkembangan pendidikan ditinjau dari perkembangan peserta didik maka upaya pendidikan yang dilakukan akan sesuai dengan karakteristik peserta didik, baik penyesuaian dari segi kemampuan ynag harus dicapai, materi atau bahan yang harus disampaikan, proses penyampaian yang sesuai dengan psikologis peserta didik. • Landasan sosioligis sehingga kurikulum harus dapat mengarahkan peserta didik akan mampu mampu terjun dalam kehidupan bermasyarakat dan diharapkan mampu mempersiapkan individu agar menjadi waraga Negara yang diharapkan lebih bermutu, mengerti dan mampu membangun masyarakat. Dengan dilandasi landasan sosiologis maka peserta didik dapat memiliki kemampuan untuk menghadapi pengeruh IPTEK. 3. penerapan komponen kurikulum dalam mata pelajaran fisika: • Penerapan Komponen tujuan memiliki tujuan Pendidikan Nasional, Tujuan Institusional, Tujuan Kurikuler, Tujuan Pembelajaran. Dengan adanya indicator pencapai dari setiap bahasan seperti menganalisis perpidahan kalor indikatornya menerapkan tujuan kognitif, afektif dan psikomotor contoh menerapkan peristiwa konduksi dalam kehidupan sehari-hari, membedakan macam-macam perpindahan kalor • Komponen isi dengan adanya konsep prasarat yang harus dimiliki siswa sebelum mempelajari bahasan yang baru seperti mengetahui konsep kalor dan suhu dari pembahasan sebelumnya sebelum menganalisis perpindahan kalor. • Komponen metode yang digunakan dalam bentuk exposition, bahan ajar sudah dikemas sehingga siswa tinggal menguasainya metode yang digunakan metode ceramah dan strategi pembelajarannya yaitu strategi pembelajaran kelompok. • Komponen evaluasi, penilaiannya berupa tes sumatif dan formatif. Criteria tes memiliki criteria validitas dan reliabilitas. Jenis tes yang digunakan berdasarkan jumlah secara tes individu, berdasarkan cara penyusunannya ada tes buatan guru dan ada tes standar, berdasarkan pelaksanaannya ada tes tertulis, tes lisan dan tes perbuatan. 4. Penjelasan dari gambar sebagai berikut: • Ideal kurikulum dengan adanya dimensi ide dan dukomen tertulis atau dimensi rencana.Dimensi ide sebagai kumpulan dari ide-ide yang dijadikan acuan untuk kurikulum berikutnya. Bagaimana program yang dipakai di sekolah tersebut berisi konsep-konsep. Dimensi rencana (dokumen tertulis) adanya perangkat rencana, atau cara pedoman, tujuan dan isi yang merupakan perwujudan dari kurikulum ide. Jadi setelah ad aide lalu buat rencana tertulisnya. • Actual kurikulum terjadi setelah dokumen tertulis (kurikulum sebagai rencana tertulis) diaplikasikan menjadi implementasi kurikulum dipandang sebagai kegiatan pembelajaran di sekolah antara guru dan siswa. • Hidden kurikulum setelah ada dimensi ide kemudian diimplementasikan (dimensi aktivitas ) sebagai aktivitas pembelajaran di sekolah tanpa adanya dokumen tertulis (kurikulum sebagai rencana tertulis) maka disebut sebagai hidden kurikulum. • Namun pada akhirnya semua proses terbentuk output (hasil dari kurikulum tersebut). Proses ideal kurikulum yaitu ide-dokumen tertulis-impelementasi kurikulum-output. Proses actual kurikulum yaitu dokumen tertulis-implementasi kurikulum-output. Proses hidden kurikulum yaitu ide-implementasi kurikulum-output. 5.Menurut pendapat saya untuk menjadikan kurikulum yang bersifat pasif itu menjadi sesuatu yang dapat mendukung keterlibatan peserta didik agar menjadi aktif yaitu dengan memberikan kesan bahwa belajar adalah hal yang menyenangkan dan peserta didik harus tahu kenapa mempelajari hal seperti itu dan ditumbuhkan motivasi lebih untuk terus memperluas wawasannya. Kurikulum yang ada harus sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat saat ini dan dibarengi dengan nilai spiritual yang lebih ditingkatkan untuk sehingga bukan hanya meningkatkan akal tapi rohani dan jasmani nya terpenuhi seperti dilengkapi dengan mentoring. 6. A. Analisis berkenaan dengan kasus tawuran ternyata penyebab terjadinya akibat dari beberapa factor yang dirasakan bukan kesalahan dari pihak pendidikan karena pasti yang diajarkan di sekolah adalah hal positif bisa jadi akibat factor eksternal dan internal dari pelajar itu sendiri, factor eksternal seperti : • Factor keluarga: kurangnya perhatian orang tua, ada permasalahan dengan orang tuanya, broken home, atau pengaruh buruk dari perilaku keluarga yang keras dan lain sebagainya • Factor lingkungan : pengaruh perilaku orang-orang sekitar rumahnya, pengaruh lingkungan tempat tinggalnya • Factor sekolah : akibat dari bagunan sekolah yang tidak memadai, lapangan yang sempit, jumlah murid yang banyak, minimnya fasilitaas belajar, dan sanitasi yang buruk Faktor internal yaitu factor yang berlangsung pada dirinya dalam menanggapi semua pengaruh dari luar. Sehingga banyak hal yang dapat dianalisis sebagai penyebab dari tawuran tersebut. B. menurut Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Musliar Kasim berperan dalam menata kembali kurikulum dengan cara penyeimbangan mata pelajaran pengetahuan, kemampuan, sikap dan karakter atau sikap “uji publiknya pada Februari 2013” . Peran lainnya menurut Kepala Dinas Pendidikan DKI Taufik Yudi Mulyanto , pihaknya tengah membangun simpul-simpul hubungan antar sekolah tak mudah tetapi harus terus dibangun. Setelah tahapan teguran kepada kepala sekolah yang memiliki kewenangan dan otonomi kemudian administrative selanjutnya bisa menyangkut akreditasi sekolah. Dapat disimpulkan dengan memperbaiki dan mengdepankan kecerdasan serta intelektual untuk meminimalisasi tawuran menjadi tugas kurikulum untuk mengemas kurikulum agar sesuai dan mengahasilkan peserta didik yang berkarakter.

kurikulum pembelajaran

Kata Pengantar Daftar Isi BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Secara umum proses belajar adalah hal yang sangat penting dan karena kita dilengkapi dengan akal yang sehat serta hasrat ingin tahu sehingga belajar adalah proses yang terarah dari rasa keingintahuan kita untuk memperoleh pengetahuan, nilai, dan keterampilan. Akan timbul suatu perubahan dari proses belajar tersebut. Perubahan yang terjadi harus dilandasi dengan arahan yang baik yang berasal dari guru sebagai fasilitator untuk terjalinnya proses pembelajaran yang mendasar pada perubahan yang diharapkan. Sehingga perlu adanya prinsip-prinsip sebagai suatu aturan untuk terjadinya perubahan-perubahan sikap, nilai dan keterampilan. Dengan memperhatikan prinsip-prinsip dalam pembelajaran akan bisa terjadi perubahan secara mantap, terarah dan hasilnya dapat dipertanggung jawabkan. Produk dari pengerjaan prinsip tersebut akan sesuai dengan harapan masyarakat yang bersifat dinamis dan zaman yang selalu berubah. Tujuan Makalah adapun tujuan dan manfaat dari penyusunan makalah ini, sebagai berikut. Untuk mengetahui hakikat dari belajar, mengajar dan pembelajaran Untuk mengetahui prinsip-prinsip pembelajaran Untuk mengetahui pelaksanaan dari prinsip-prinsip tersebut Manfaat Makalah Dari pengetahuan konsep tentang prinsip-prinsip pembelajaran dan hakikat pembelajaran yang ada dalam makalah ini diharapkan bermanfaat bagi para calon guru yang nantinya akan bergelut pada proses pembelajaran sehingga akan mampu menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran dalam dunia pendidikan dan bagi pembaca dapat menyelesaikan sekelumit masalah pendidikan. BAB II PEMBAHASAN Hakikat Pembelajaran Belajar adalah suatu perubahan dalam kepribadian sebagai suatu pola baru yang berpola kecakapan sikap kebiasaan atau suatu pengertian belajar pada hakikatnya merupakan suatu proses usaha perubahan yang terjadi pada induvidu sebagai hasil dari pengalaman atau hasil dari pengalaman interaksi dengan lingkungan. Dikemukakan oleh Cronbath dalam bukunya yang berjudul “Educational Psychology” sebagai berikut Learning is shown by change in behavior as a result of experience maksudnya bahwa dalam proses belajar seseorang berinteraksi langsung dengan semua alat inderanya belajar dalam arti mengubah perilaku akan membawa suatu perubahan pada diri individu-individu yang belajar. Perubahan itu tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan tetapi juga bentuk kecakapan keterampilan sikap, watak dan penyesuaian diri. terjemahan dari bahasa Inggris “instruction” terdiri dari mengajar dan belajar kemudian disatukan dalam aktivitas belajar-mengajar yang selanjutnya popular dengan istilah Pembelajaran (instruction). Dengan demikian, untuk memahami hakikat pembelajaran maka terlebih dahulu memahami setiap bagian yaitu hakikat balajar dan mengajar. Menurut Hamalik Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersususn dari unsur-unsur manusiawi (guru dan siswa), material (buku, papan tulis, kapur dan alat belajar), fasilitas (ruang kelas audio visual) dan proses saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran. Dari beberapa sumber yang membahas mengenai pembelajaran, terdapat kesamaan subtansi tentang belajar yaiut pada dasarnya adalah perubahan perilaku ( pengetahuan, sikap dan keterampilan) sebagai hasil interaksi anatara siswa dengan lingkungan pembelajaran. Dari pengertian tersebut memiliki dua unsur penting yang menjelaskan tentang belajar yaitu 1) perubahan perilaku, dan 2) hasil interaksi. Dengan dua indicator tersebut dapat disimpulkan, bahawa seseorang yang telah belajar pasti harus ditandai dengan adanya perubahan perilaku, jika tidak maka tidak terjadi belajar. Selanjutnya bahwa yang terjadi itu harus melalui suatu proses yaitu interaksi yang direncanakan antara siswa dengan lingkungan pembelajaran untuk terjadinya kegiatan pembelajaran, jika tidak maka perubahan tersebut bukan bukan hasil belajar. Oleh karena itu, perubahan perilaku pada siswa dapat dibedakan dari dua segi: pertama perubahan perilakau sebagai hasil pembelajaran dan kedua perubahan perilaku yang bukan hasil pembelajaran. Adapun yang harus dilakukan oleh setiap tenaga kependidikan, bahwa perubahan perilaku pada setiap peserta didik tentu saja adalah perubahan perilaku hasil pembelajaran. Bertitik tolak dari pengertian belajar tersebut di atas, maka mengajar pada dasarnya adalah kegiatan mengelola lingkungan pembelajaran agar interaksi denga siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajan adalah perubahan perilaku (pengetahuan, sikap, keterampilan). Pengertian mengajar tersebut sesuai dengan pengertian belajar yang sudah dijelaskan sebelumnya yaitu perubahan perilaku hasil interaksi dengan lingkungan pembelajaran. Oleh karena itu, maka mengajar adalah mengelola lingkungan pembelajaran untuk berlangsungnya proses pembelajaran. Dari pengertian belajar dan mengajar tersebut, maka jika disatukan menjadi “pembelajaran”, mengandung makna yaitu suatu proses aktivitas interaksi antara siswa dengan lingkungannya pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dilihat dari segi pelaku utamanya (subjek), bahwa belajar menunjukkan pada perilaku totalitas dari peserta didik /siswa untuk melakukan berbagai aktivitas merespons terhadap setiap rangsangan (stimulus) pembelajaran untuk tercapainya tujuan pembelajaran. Sedangkan mengajar menunjuk pada perilaku secara totalitas dan professional pada guru, instuktur, tutor, dan sebutan tenaga kependidikan lainnya untuk memfasilitasi terjadinya belajar pada diri siswa. Dengan demikian dilihat dari segi perilaku, maka pembelajaran menunjuk pada perilaku totalitas interaksi antara siswa/peserta didik dengan guru, instruktiur, tutor, dan sebutan tenaga kependidikan lainnya, dan lingkungan pembelajaran lainnya yang lebih luas untuk tercapainya tujuan pembelajaran. Terhadap istilah tersebut yaitu belajar, mengajar dan pembelajaran ;Prof. DR. Chaedar Alwasilah, M.A. memberikan batasan sebagai berikut: Belajar (Learning) adalah refleksi system kepribadian siswa yang menunjukkan perilaku yang terkait dengan tugas yang diberikan. Mengajar (Teaching) adalah refleksi system kepribadian sang guru yang bertindak secara professional Pembelajaran (Instruction) adalah system social tempat berlangsungnya mengajar dan belajar Dari masing-masing batasan tersebut di atas, secara sederhana dapat disimpulkan bahwa antara kegiatan belajar dan mengajar keduanya dapat menuntut aktivitas yang sama, yaitu refleksi untuk melaksanakan tugas dan kewajiban sesuai denga fungsinya masing-masing (siswa dan guru). Hubungan aktivitas secara interaktif antara siswa dan guru serta lingkungan pembelajaran lainnya untuk mennuju kea rah perubahan perilaku yang diharapkan, dan itulah hakikat pembelajaran (instruction). Intinya adalah perubahan, dan perubahan tersebut diperoleh melalui aktivitas merespons terhadap lingkungan pembelajaran. Dari beberapa pembahasan mengenai hakikat pembelajaran seperti yang telah diungkapkan, maka tentu saja agar pembelajaran tersebut dapat berjalan denga efektif dan efisien terdapat ketentuan pokok atau prinsip yang harus dipenuhi oleh setiap pelaku pembelajaran. Dengan demikian, prinsip pembelajaran pada dasarnya adalah ketentuan, kaidah, hokum, atau norma yang harus diperhatikan oleh setiap pelaku pembelajaran agar pembelajaran dapat berlangsung efektif dan efisien. Prinsip-Prinsip Belajar Prinsip-prinsip belajar yang diintisarikan oleh Rothwal (1961) sebagai berikut: Prinsip Kesiapan (Readiness) Proses belajar dipengaruhi kesiapan murid, yang dimaksud dengan kesiapan atau readiness ialah kondisi individu yang memungkinkan ia dapat belajar. Berkenaan dengan hal itu terdapat berbagai macam taraf kesiapan belajar untuk suatu tugas khusus. Seseorang siswa yang belum siap untuk melaksanakan suatu tugas dalam belajar akan mengalami kesulitan atau malah putus asa. Yang termasuk kesiapan ini ialah kematangan dan pertumbuhan fisik, intelegensi latar belakang pengalaman, hasil belajar yang baku, motivasi, persepsi dan faktor-faktor lain yang memungkinkan seseorang dapat belajar. Berdasarkan dengan prinsip kesiapan ini dapat dikemukakan hal-hal sebagai berikut: Seorang individu akan dapat belajar dengan sebaik-baiknya bila tugas-tugas yang diberikan kepadanya erat hubungannya dengan kemampuan, minat dan latar belakangnya. Kesiapan untuk belajar harus dikaji bahkan diduga. Hal ini mengandung arti bila seseorang guru ingin mendapat gambaran kesiapan muridnya untuk mempelajari sesuatu, ia harus melakukan pengetesan kesiapan. Jika seseorang individu kurang memiliki kesiapan untuk sesuatu tugas, kemudian tugas itu seyogianya ditunda sampai dapat dikembangkannya kesiapan itu atau guru sengaja menata tugas itu sesuai dengan kesiapan siswa. Kesiapan untuk belajar mencerminkan jenis dan taraf kesiapan, misalnya dua orang siswa yang memiliki kecerdasan yang sama mungkin amat berbeda dalam pola kemampuan mentalnya. Bahan-bahan, kegiatan dan tugas seyogianya divariasikan sesuai dengan faktor kesiapan kognitif, afektif dan psikomotor dari berbagai individu. Prinsip Motivasi (Motivation) Tujuan dalam belajar diperlukan untuk suatu proses yang terarah. Motivasi adalah suatu kondisi dari pelajar untuk memprakarsai kegiatan, mengatur arah kegiatan itu dan memelihara kesungguhan. Secara alami anak-anak selalu ingin tahu dan melakukan kegiatan penjajagan dalam lingkungannya. Rasa ingin tahu ini seyogianya didorong dan bukan dihambat dengan memberikan aturan yang sama untuk semua anak. Berkenaan dengan motivasi ini ada beberapa prinsip yang seyogianya kita perhatikan. Motivasi dipengaruhi oleh unsur-unsur kepribadian seperti rasa rendah diri, atau keyakinan diri. Seorang anak yang temasuk pandai atau kurang juga bisa menghadapi masalah. Rasa aman dan keberhasilan dalam mencapai tujuan cenderung meningkatkan motivasi belajar. Motivasi bertambah bila para pelajar memiliki alasan untuk percaya bahwa sebagian besar dari kebutuhannya dapat dipenuhi. Kajian dan penguatan guru, orang tua dan teman seusia berpengaruh terhadap motivasi dan perilaku. Insentif dan hadiah material kadang-kadang berguna dalam situasi kelas, memang ada bahayanya bila anak bekerja karena ingin mendapat hadiah dan bukan karena ingin belajar. Kompetisi dan insentif bisa efektif dalam memberi motivasi, tapi bila kesempatan untuk menang begitu kecil kompetisi dapat mengurangi motivasi dalam mencapai tujuan. Prinsip Persepsi Persepsi adalah interpretasi tentang situasi yang hidup. Setiap individu melihat dunia dengan caranya sendiri yang berbeda dari yang lain. Persepsi ini mempengaruhi perilaku individu. Seseorang guru akan dapat memahami murid-muridnya lebih baik bila ia peka terhadap bagaimana cara seseorang melihat suatu situasi tertentu. Berkenaan dengan persepsi ini ada beberapa hal-hal penting yang harus kita perhatikan: Setiap pelajar melihat dunia berbeda satu dari yang lainnya karena setiap pelajar memiliki lingkungan yang berbeda. Semua siswa tidak dapat melihat lingkungan yang sama dengan cara yang sama. Seseorang menafsirkan lingkungan sesuai dengan tujuan, sikap, alasan, pengalaman, kesehatan, perasaan dan kemampuannya. Cara bagaimana seseorang melihat dirinya berpengaruh terhadap perilakunya. Dalam sesuatu situais seorang pelajar cenderung bertindak sesuai dengan cara ia melihat dirinya sendiri. Para pelajar dapat dibantu dengan cara memberi kesempatan menilai dirinya sendiri. Guru dapat menjadi contoh hidup. Perilaku yang baik bergantung pada persepsi yang cermat dan nyata mengenai suatu situasi. Guru dan pihak lain dapat membantu pelajar menilai persepsinya. Prinsip Tujuan Tujuan ialah sasaran khusus yang hendak dicapai oleh seseorang dan mengenai tujuan ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan: Tujuan seyogianya mewadahi kemampuan yang harus dicapai. Dalam menetapkan tujuan seyogianya mempertimbangkan kebutuhan individu dan masyarakat Pelajar akan dapat menerima tujuan yang dirasakan akan dapat memenuhi kebutuhannya. Tujuan guru dan murid seyogianya sesuai Aturan-aturan atau ukuran-ukuran yang ditetapkan oleh masyarakat dan pemerintah biasanya akan mempengaruhi perilaku. Tingkat keterlibatan pelajar secara aktif mempengaruhi tujuan yang dicanangkannya dan yang dapat ia capai. Prinsip Perbedaan Individual Proses pengajaran seyogianya memperhatikan perbedaan indiviadual dalam kelas sehingga dapat memberi kemudahan pencapaian tujuan belajar yang setinggi-tingginya. Pengajaran yang hanya memperhatikan satu tingkatan sasaran akan gagal memenuhi kebutuhan seluruh siswa. Karena itu seorang guru perlu memperhatikan latar belakang, emosi, dorongan dan kemampuan individu dan menyesuaikan materi pelajaran dan tugas-tugas belajar kepada aspek-aspek tersebut. Berkenaan dengan perbedaan individual ada beberapa hal yang perlu diingat: Para pelajar harus dapat dibantu dalam memahami kekuatan dan kelemahan dirinya dan selanjutnya mendapat perlakuan dan pelayanan kegiatan, tugas belajar dan pemenuhan kebutuhan yang berbeda-beda. Para pelajar perlu mengenal potensinya dan seyogianya dibantu untuk merenncanakan dan melaksanakan kegiatannya sendiri. Para pelajar membutuhkan variasi tugas, bahan dan metode yang sesuai dengan tujuan , minat dan latarbelakangnya. Pelajar cenderung memilih pengalaman belajar yang sesuai dengan pengalamannya masa lampau yang ia rasakan bermakna untuknya. Setiap pelajar biasanya memberi respon yang berbeda-beda karena memang setiap orang memiliki persepsi yang berbeda mengenai pengalamannya. Kesempatan-kesempatan yang tersedia untuk belajar lebih diperkuat bila individu tidak merasa terancam lingkungannya, sehingga ia merasa merdeka untuk turut ambil bagian secara aktif dalam kegiatan belajar. Manakala para pelajar memiliki kemerdekaan untuk berpikir dan berbuat sebagai individu, upaya untuk memecahkan masalah motivasi dan kreativitas akan lebih meningkat. Prinsip Transfer dan Retensi Apa pun yang dipelajari dalam suatu situasi pada akhirnya akan digunakan dalam situasi yang lain. Prosesa tersebut dikenal dengan proses transfer, kemampuan seseorang untuk menggunakan lagi hasil belajar disebut retensi. Bahan-bahan yang dipelajari dan diserap dapat digunakan oleh para pelajar dalam situasi baru. Berkenaan dengan proses transfer dan retensi ada beberapa prinsip yang harus kita ingat. Tujuan belajar dan daya ingat dapat memperkuat retensi. Usaha yang aktif untuk mengingat atau menugaskan sesuatu latuhan untuk dipelajari dapat meningkatkan retensi. Bahan yang bermakna bagi pelajar dapat diserap lebih baik. Retensi seseorang dipengaruhi oleh kondisi fisik dan psikis dimana proses belajar itu terjadi. Karena itu latihan seyogianya dilakukan dalam suasana yang nyata. Latihan yang terbagi-bagi memungkinkan retensi yang baik. Suasana belajar yang dibagi ke dalam unit-unit kecil waktu dapat menghasilkan proses belajar dengan retensi yang lebih baik daripada proses belajar yang berkepanjangan. Waktu belajar dapat ditentukan oleh struktur-struktur logis dari materi dan kebutuhan para pelajar. Penelaahan bahan-bahan yang faktual, keterampilan dan konsep dapat meningkatkan retensi dan nilai transfer. Prinsip Belajar Kognitif Belajar kognitif mencakup asosiasi antar unsur, pembentukan konsep, penemuan masalah, dan keterampilan memecahkan masalah yang selanjutnya membentuk perilaku baru, berpikir, menalar, menilai dan berimajinasi merupakan aktivitas mental yang berkaitan dengan proses belajar kognitif. Proses belajar itu dapat terjadi pada berbagai tingkat kesukaran dan menuntut berbagai aktivitas mental. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam belajar kognitif. Perhatian harus dipusatkan kepada aspek-aspek lingkungan yang relevan sebelum proses-proses belajar kognitif terjadi. Dalam hubungan ini pelajar perlu mengarahkan perhatian yang penuh agar proses belajar kognitif benar-benar terjadi. Hasil belajar kognitif akan bercariasi sesuai dengan taraf dan jenis perbedaan individual yang ada. Bentuk-bentuk kesiapan perbendaharaan kata, kemampuan membaca, kecakapan dan pengalaman berpengaruh langsung terhadap proses belajar kognitif. Pengalaman belajar harus diorganisasikan ke dalam satuan-satauan atau unit-unit yang sesuai. Bila menyajikan konsep, kebermaknaan dari konsep amatlah penting . Perilaku mencari, penerapan, pendefinisian resmi dan penilaian sangat diperlukan untuk menguji bahwa suatu konsep benar-benar bermakna. Prinsip Belajar Afektif Belajar afektif mencakup nilai emosi, dorongan, minat dan sikap. Dalam banyak hal pelajar mungkin tidak menyadari belajar afektif. Sesungguhnya proses belajar afektif meliputi dasar yang asli untuk dan merupakan bentuk dari sikap, emosi dorongan, minat dan sikap individu. Berkenaan dengan hal-hal tersebut diatas, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam proses belajar afektif. Hampir semua aspek kehidupan mengandung aspek afektif. Hal bagaimana para pelajar menyesuaikan diri dan memberi reaksi terhadap situasi akan memberi dampak dan pengaruh terhadap proses belajar afektif. Suatu waktu, nilai-nilai yang penting yang diperoleh pada masa kanak-kanak akan melekat sepanjang hayat. Nilai, sikap dan perasaan yang tidak berubah akan tetap melekat pada keseluruhan proses perkembangan. Sikap dan nilai sering diperoleh melalui proses identifikasi dari orang lain dan bukan hasil dari belajar langsung. Sikap lebih mudah dibentuk karena pengalaman yang menyenangkan. Proses Belajar Psikomotor Proses belajar psikomotor individu menentukan bagaimana ia mampu mengendalikan aktivitas jasmaninya. Belajar psikomotor mengandung aspek mental dan fisik. Berkenaan dengan hal itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Didalam tugas suatu kelompok akan menunjukkan variasi dalam kemampuan dasar psikomotor. Perkembangan psikomotor anak tertentu terjadi tidak beraturan. Struktur ragawi dan sistem syaraf individu membantu menentukan taraf penampilan psikomotor. Melalui bermain dan aktivitas nonformal para pelajar akan memperoleh kemampuan mengontrol gerakannya lebih baik. Dengan kematangan fisik dan mental kemampuan pelajar untuk memadukan dan memperhalus gerakannya akan lebih dapat diperkuat. Faktor lingkungan memberi pengaruh terhadap bentuk dan cdakupan penampilan psikomotor individu. Penjelasan yang baik, demonstrasi dan partisipasi aktif pelajar dapat menambah efisiensi belajar psikomotor. Prinsip Evaluasi Pelaksanaan latihan evaluasi memungkinkan bagi individu untuk menguji kemajuan dalam pencapaian tujuan. Penilaian individu terhadap proses belajarnya dipengaruhi oleh kebebasan untuk menilai. Evaluasi mencakup kesadaran individu mengenai penampilan, motivasi belajar dan kesiapan untuk belajar. Individu yang berinteraksi dengan yang lain pada dasarnya ia mengkaji pengalaman belajarnya dan hal ini pada gilirannya akan dapat meningkatkan kemampuannya untuk menilai pengalamannya. Berkenaan dengan evaluasi ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Evaluasi memberi arti pada proses belajar dan memberi arah baru pada pelajar. Bila tujuan dikaitkan dengan evaluasi maka peran evaluasi begitu penting bagi pelajar. Latihan penilaian guru dapat mempengaruhi bagaimana pelajar terlibat dalam evaluasi dan belajar. Evaluasi terhadap kemajuan pencapaian tujuan akan lebih mantap bila guru dan murid saling bertukar dan menerima pikiran, perasaan dan pengamatan. Kekurangan atau ketidaklengkapan evaluasi dapat mengurangi kemampuan guru dalam melayani muridnya. Sebaliknya evaluasi yang menyeluruh dapat memperkuat kemampuan pelajar untuk menilai dirinya. Jika tekanan evaluasi guru diberikan terus menerus terhadap penampilan siswa, pola ketergantungan penghindaran dan kekerasan akan berkembang. 2. Prinsip-Prinsip Pembelajaran Menurut Chaedar Alwasilah, dengan memerhatikan hakikat pembelajaran adalah “interaksi antara siswa dengan lingkungan pembelajaran agar tercapai tujuan pembelajaran (perubahan perilaku), maka terdapat prinsip-prinsip umum yang harus menjadi inspirasi bagi pihak-pihak yang terkait dengan pembelajaran (siswa dan guru), yaitu : Prinsip umum pembelajaran Bahwa belajar menghasilkan perubahan perilaku peserta didik yang relatif permanen Peserta didik memiliki potensi, gandrung dan kemampuan yang merupakan benih kodrati untuk ditumbuhkembangkan Perubahan atau pencapaian kualitas ideal itu tidak tumbuh alami liniear sejalan proses kehidupan. Prinsip Khusus Pembelajaran Prinsip perhatian dan motivasi Perhatian dalam proses pembelajaran memiliki peranan yang sangat penting sebagai langkah awal dalam memicu aktivitas-aktivitas belajar. Diperlukan susunan rancangan pembelajaran yang dapat menarik perhatian dan motivasi belajar siswa. Mengingat begitu pentingnya faktor perhatian, maka dalam proses pembelajaran, perhatian berfungsi sebagai modal awal yang harus dikembangkan secara optimal untuk memperoleh proses dan hasil yang maksimal (Gage dan Berliner: 1984) Perhatian adalah memusatkan pikiran dan perasaan emosional secara fisik dan psikis terhadap sesuatu yang menjadi pusat perhatiannya. Perhatian dapat muncul secara spontan dapat pula muncul sesuai yang direncanakan. Dalam proses pembelajaran pembelajaran, perhatian peserta didik akan muncul jika pelajaran yang diberikan merupakan bahan pelajaran yang mnarik atau yang dibutuhkan oleh peserta didik. Namun jika perhatian ini tidak muncul secara alami, maka tugas gurulah yang membangkitkan perhatian peserta didik, artinya guru harus bisa mengemas penyampaian materi sedimikian rupa yang tentu saja bisa membangkitkan perhatian anak terhapap mata pelajaran yang bersangkutan. Sedangkan bentuk perhatian direflesikan dengna cara melihat dengan penuh perhatian, meraba, menganalisis, bertanya dan aktivitas-aktivitas lainnya. Motivasi memiliki peranan yang penting dalam kegiatan pembelajaran. Seorang anak yang memiliki minat terhadap materi pembelajaran tertentu, ia akan lebih intensif memperhatikan dan akan timbul motivasi dalam dirinya untuk mempelajari materi tersebut lebih dalam. Motivasi akan mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak orang lain lakukan. Menurut H.L.Petri (1986), “motivation is the concept we use went we describe the forces acting on or within an organism to initiate and direct behavior.” Motivasi dapat dijadikan tujuan dan alat dalam pembelajaran. Motivasi sifatnya stabil, bisa saja tinggi, sedang bahkan menurun. Motivasi berhubungan erat dengan minat. Siswa yang memiliki minat lebih tinggi terhadap suatu mata pelajaran tertentu, ia akan cenderung memberikan perhatian lebih pada mata pelajaran tersebut sehingga akan menimbulkan motivasi belajar dalam dirinya terhadap mata pelajaran tersebut. Motivasi dapat bersifat internal artinya motivasi ini memang muncul dalam dirinya sendiri tanpa ada intervensi dari luar, misalnya harapan, cita-cita, minat dan lain-lain. Sedangkan motivasi yang sifatnya eksternal artinya bahwa ada rangsangan/stimulus dari luar yang menyebabkan motivasi seseorang muncul, misalnya kondisi lingkungan kelas, sekolah, adanya hadiah/ reward, pujian, karena takut akan hukuman dan lain-lain. Motivasi dapat dibedakan menjadi dua yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Setiap motif baik itu intrinsik maupun ekstrinsik dapat pula bersifat internal ataupun eksternal. Motif tersebut juga dapat berubah dari motif eksternal menjadi motif internal ataupun sebaliknya. Misalkan ada seorang anak yang awalnya diminta oleh orang tuanya untuk belajar di bidang pendidikan. Motivasi tersebut awalnya bersifat eksternal karena ada dorongan dari orangtuanya, saat ternyata anak tersebut mulai menyukai pelajarannya serta berminat dalam mempelajarinya, maka akan timbulah motivasi dalam dirinya, yaitu motivasi internal. Motivasi belajar merupakan hal yang sangat penting dalam pelaksanan pembelajaran. Hal ini didasari oleh berbagai hal, diantarnya : Siswa harus senantiasa didorong oleh untuk bekerja sama dalam belajar. Siswa harus senantiasa didorong untuk bekerja dan berusaha sesuai dengan tuntutan belajar. Motivasi merupakan hal yang penting untuk memelihara dan mengembangkan sumber daya manusia melalui pendidikan. Motivasi dapat diartikan sebagai upaya untuk menimbulkan atau meningkatkan dorongan untuk mewujudkan perilaku tertentu yang terarah kepada pencapaian tujuan. Perilaku belajar yang terjadi dalam proses pembelajaran adalah pencapaian tujuan dan hasil belajar. Prinsip Keaktifan Belajar pada hakikatnya adalah proses aktif di mana seseorang melakukan kegiatan secara sadar untuk mengubah suatu perilaku, terjadi kegiatan merespon terhadap setiap pembelajaran. Kecenderungan psikologi saat ini menyatakan bahwa anak adalah makhluk yang aktif. John Dewey menyatakan bahwa “belajar adalah menyangkut apa yang harus dikerjakan siswa oleh dirinya sendiri, maka inisiatif belajar harus muncul dari dirinya”. Dalam proses belajar, guru hanya sebagai membimbing dan mengarahkan sedangkan siswa yang harus aktif belajar. Teori kognitif menyatakan bahwa belajar menunjukan adanya jiwa yang aktif, jiwa yang tidak sekedar merespons informasi, namun jiwa mengolah dan melakukan transformasi informasi yang diterima (Gage & Berliner, 1984:267). Maka siswa sebagai subyek belajar memiliki sifat aktif, kontruktif, dan mampu merencanakan, mencari mengolah informasi, menganalisis, mengidentifikasi, memecahkan, meyimpulkan dan melaksanakan tranformasi ke dalm kehidupan yang lebih luas. Thorndike dengan “Law of exercise” menyatakan bahwa belajar perlu adanya latihan-latihan. Mc Keachie menyatakan bahwa “tentang individu merupakan manusia yang aktif dan selalu ingin tahu, dapat menjadi masukan bahwa dalam proses pembelajaran , guru dapat menggali dan mengembangkan aktivitas-aktivitas pembelajaran yang berpusat pada siswa. Pembahasan Asep dulu BAB III PENUTUP Kesimpulan Adapun kesimpulan dari kami adalah sebagai berikut: Pembelajaran adalah hasil interaksi antara siswa dengan lingkungan pembelajaran untuk mencapai tujuan dari pembelajaran yaitu terjadinya perubahan perilaku berupa pengetahuan, sikap, nilai dan keterampilan. Dalam pembelajaran perlu diperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran sebagai suatu acuan, ketentuan dalam melaksanakan proses pembelajaran sehingga terjadi pembelajaran yang efektif dan efisien. Saran Saran yang dapat penulis berikan untuk makalah ini sebagai berikut: Perlu adanya dorongan dan dukungan dari semua pihak untuk melaksanakan prinsip-prinsip pembelajaran dalam melaksanakan proses pembelajaran Dilakukan pengembangan pendidikan dengan cara menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran untuk tercapainya tujuan pembelajaran DAFTAR PUSTAKA Fitriyah, Yuni.(2012). Prinsip-Prinsip Belajar dan Asas Pembelajaran. [online]. Tersedia: http://blog.unsri.ac.id/yunifitriyah/belajar-dan-pembelajaran/prinsip-prinsip-belajar-dan-asas-pembelajaran/mrdetail/15206/.[20 Oktober 2012]. Nahampun, Jeperis.(2009). Prinsip-Prinsip Belajar dan Pembelajaran. [online]. Tersedia: http://jeperis.wordpress.com/2009/01/21/prinsip-prinsip-belajar-dan-pembelajaran/.[20 Oktober 2012].