Minggu, 28 Oktober 2012

kurikulum pembelajaran

Kata Pengantar Daftar Isi BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Secara umum proses belajar adalah hal yang sangat penting dan karena kita dilengkapi dengan akal yang sehat serta hasrat ingin tahu sehingga belajar adalah proses yang terarah dari rasa keingintahuan kita untuk memperoleh pengetahuan, nilai, dan keterampilan. Akan timbul suatu perubahan dari proses belajar tersebut. Perubahan yang terjadi harus dilandasi dengan arahan yang baik yang berasal dari guru sebagai fasilitator untuk terjalinnya proses pembelajaran yang mendasar pada perubahan yang diharapkan. Sehingga perlu adanya prinsip-prinsip sebagai suatu aturan untuk terjadinya perubahan-perubahan sikap, nilai dan keterampilan. Dengan memperhatikan prinsip-prinsip dalam pembelajaran akan bisa terjadi perubahan secara mantap, terarah dan hasilnya dapat dipertanggung jawabkan. Produk dari pengerjaan prinsip tersebut akan sesuai dengan harapan masyarakat yang bersifat dinamis dan zaman yang selalu berubah. Tujuan Makalah adapun tujuan dan manfaat dari penyusunan makalah ini, sebagai berikut. Untuk mengetahui hakikat dari belajar, mengajar dan pembelajaran Untuk mengetahui prinsip-prinsip pembelajaran Untuk mengetahui pelaksanaan dari prinsip-prinsip tersebut Manfaat Makalah Dari pengetahuan konsep tentang prinsip-prinsip pembelajaran dan hakikat pembelajaran yang ada dalam makalah ini diharapkan bermanfaat bagi para calon guru yang nantinya akan bergelut pada proses pembelajaran sehingga akan mampu menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran dalam dunia pendidikan dan bagi pembaca dapat menyelesaikan sekelumit masalah pendidikan. BAB II PEMBAHASAN Hakikat Pembelajaran Belajar adalah suatu perubahan dalam kepribadian sebagai suatu pola baru yang berpola kecakapan sikap kebiasaan atau suatu pengertian belajar pada hakikatnya merupakan suatu proses usaha perubahan yang terjadi pada induvidu sebagai hasil dari pengalaman atau hasil dari pengalaman interaksi dengan lingkungan. Dikemukakan oleh Cronbath dalam bukunya yang berjudul “Educational Psychology” sebagai berikut Learning is shown by change in behavior as a result of experience maksudnya bahwa dalam proses belajar seseorang berinteraksi langsung dengan semua alat inderanya belajar dalam arti mengubah perilaku akan membawa suatu perubahan pada diri individu-individu yang belajar. Perubahan itu tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan tetapi juga bentuk kecakapan keterampilan sikap, watak dan penyesuaian diri. terjemahan dari bahasa Inggris “instruction” terdiri dari mengajar dan belajar kemudian disatukan dalam aktivitas belajar-mengajar yang selanjutnya popular dengan istilah Pembelajaran (instruction). Dengan demikian, untuk memahami hakikat pembelajaran maka terlebih dahulu memahami setiap bagian yaitu hakikat balajar dan mengajar. Menurut Hamalik Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersususn dari unsur-unsur manusiawi (guru dan siswa), material (buku, papan tulis, kapur dan alat belajar), fasilitas (ruang kelas audio visual) dan proses saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran. Dari beberapa sumber yang membahas mengenai pembelajaran, terdapat kesamaan subtansi tentang belajar yaiut pada dasarnya adalah perubahan perilaku ( pengetahuan, sikap dan keterampilan) sebagai hasil interaksi anatara siswa dengan lingkungan pembelajaran. Dari pengertian tersebut memiliki dua unsur penting yang menjelaskan tentang belajar yaitu 1) perubahan perilaku, dan 2) hasil interaksi. Dengan dua indicator tersebut dapat disimpulkan, bahawa seseorang yang telah belajar pasti harus ditandai dengan adanya perubahan perilaku, jika tidak maka tidak terjadi belajar. Selanjutnya bahwa yang terjadi itu harus melalui suatu proses yaitu interaksi yang direncanakan antara siswa dengan lingkungan pembelajaran untuk terjadinya kegiatan pembelajaran, jika tidak maka perubahan tersebut bukan bukan hasil belajar. Oleh karena itu, perubahan perilaku pada siswa dapat dibedakan dari dua segi: pertama perubahan perilakau sebagai hasil pembelajaran dan kedua perubahan perilaku yang bukan hasil pembelajaran. Adapun yang harus dilakukan oleh setiap tenaga kependidikan, bahwa perubahan perilaku pada setiap peserta didik tentu saja adalah perubahan perilaku hasil pembelajaran. Bertitik tolak dari pengertian belajar tersebut di atas, maka mengajar pada dasarnya adalah kegiatan mengelola lingkungan pembelajaran agar interaksi denga siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajan adalah perubahan perilaku (pengetahuan, sikap, keterampilan). Pengertian mengajar tersebut sesuai dengan pengertian belajar yang sudah dijelaskan sebelumnya yaitu perubahan perilaku hasil interaksi dengan lingkungan pembelajaran. Oleh karena itu, maka mengajar adalah mengelola lingkungan pembelajaran untuk berlangsungnya proses pembelajaran. Dari pengertian belajar dan mengajar tersebut, maka jika disatukan menjadi “pembelajaran”, mengandung makna yaitu suatu proses aktivitas interaksi antara siswa dengan lingkungannya pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dilihat dari segi pelaku utamanya (subjek), bahwa belajar menunjukkan pada perilaku totalitas dari peserta didik /siswa untuk melakukan berbagai aktivitas merespons terhadap setiap rangsangan (stimulus) pembelajaran untuk tercapainya tujuan pembelajaran. Sedangkan mengajar menunjuk pada perilaku secara totalitas dan professional pada guru, instuktur, tutor, dan sebutan tenaga kependidikan lainnya untuk memfasilitasi terjadinya belajar pada diri siswa. Dengan demikian dilihat dari segi perilaku, maka pembelajaran menunjuk pada perilaku totalitas interaksi antara siswa/peserta didik dengan guru, instruktiur, tutor, dan sebutan tenaga kependidikan lainnya, dan lingkungan pembelajaran lainnya yang lebih luas untuk tercapainya tujuan pembelajaran. Terhadap istilah tersebut yaitu belajar, mengajar dan pembelajaran ;Prof. DR. Chaedar Alwasilah, M.A. memberikan batasan sebagai berikut: Belajar (Learning) adalah refleksi system kepribadian siswa yang menunjukkan perilaku yang terkait dengan tugas yang diberikan. Mengajar (Teaching) adalah refleksi system kepribadian sang guru yang bertindak secara professional Pembelajaran (Instruction) adalah system social tempat berlangsungnya mengajar dan belajar Dari masing-masing batasan tersebut di atas, secara sederhana dapat disimpulkan bahwa antara kegiatan belajar dan mengajar keduanya dapat menuntut aktivitas yang sama, yaitu refleksi untuk melaksanakan tugas dan kewajiban sesuai denga fungsinya masing-masing (siswa dan guru). Hubungan aktivitas secara interaktif antara siswa dan guru serta lingkungan pembelajaran lainnya untuk mennuju kea rah perubahan perilaku yang diharapkan, dan itulah hakikat pembelajaran (instruction). Intinya adalah perubahan, dan perubahan tersebut diperoleh melalui aktivitas merespons terhadap lingkungan pembelajaran. Dari beberapa pembahasan mengenai hakikat pembelajaran seperti yang telah diungkapkan, maka tentu saja agar pembelajaran tersebut dapat berjalan denga efektif dan efisien terdapat ketentuan pokok atau prinsip yang harus dipenuhi oleh setiap pelaku pembelajaran. Dengan demikian, prinsip pembelajaran pada dasarnya adalah ketentuan, kaidah, hokum, atau norma yang harus diperhatikan oleh setiap pelaku pembelajaran agar pembelajaran dapat berlangsung efektif dan efisien. Prinsip-Prinsip Belajar Prinsip-prinsip belajar yang diintisarikan oleh Rothwal (1961) sebagai berikut: Prinsip Kesiapan (Readiness) Proses belajar dipengaruhi kesiapan murid, yang dimaksud dengan kesiapan atau readiness ialah kondisi individu yang memungkinkan ia dapat belajar. Berkenaan dengan hal itu terdapat berbagai macam taraf kesiapan belajar untuk suatu tugas khusus. Seseorang siswa yang belum siap untuk melaksanakan suatu tugas dalam belajar akan mengalami kesulitan atau malah putus asa. Yang termasuk kesiapan ini ialah kematangan dan pertumbuhan fisik, intelegensi latar belakang pengalaman, hasil belajar yang baku, motivasi, persepsi dan faktor-faktor lain yang memungkinkan seseorang dapat belajar. Berdasarkan dengan prinsip kesiapan ini dapat dikemukakan hal-hal sebagai berikut: Seorang individu akan dapat belajar dengan sebaik-baiknya bila tugas-tugas yang diberikan kepadanya erat hubungannya dengan kemampuan, minat dan latar belakangnya. Kesiapan untuk belajar harus dikaji bahkan diduga. Hal ini mengandung arti bila seseorang guru ingin mendapat gambaran kesiapan muridnya untuk mempelajari sesuatu, ia harus melakukan pengetesan kesiapan. Jika seseorang individu kurang memiliki kesiapan untuk sesuatu tugas, kemudian tugas itu seyogianya ditunda sampai dapat dikembangkannya kesiapan itu atau guru sengaja menata tugas itu sesuai dengan kesiapan siswa. Kesiapan untuk belajar mencerminkan jenis dan taraf kesiapan, misalnya dua orang siswa yang memiliki kecerdasan yang sama mungkin amat berbeda dalam pola kemampuan mentalnya. Bahan-bahan, kegiatan dan tugas seyogianya divariasikan sesuai dengan faktor kesiapan kognitif, afektif dan psikomotor dari berbagai individu. Prinsip Motivasi (Motivation) Tujuan dalam belajar diperlukan untuk suatu proses yang terarah. Motivasi adalah suatu kondisi dari pelajar untuk memprakarsai kegiatan, mengatur arah kegiatan itu dan memelihara kesungguhan. Secara alami anak-anak selalu ingin tahu dan melakukan kegiatan penjajagan dalam lingkungannya. Rasa ingin tahu ini seyogianya didorong dan bukan dihambat dengan memberikan aturan yang sama untuk semua anak. Berkenaan dengan motivasi ini ada beberapa prinsip yang seyogianya kita perhatikan. Motivasi dipengaruhi oleh unsur-unsur kepribadian seperti rasa rendah diri, atau keyakinan diri. Seorang anak yang temasuk pandai atau kurang juga bisa menghadapi masalah. Rasa aman dan keberhasilan dalam mencapai tujuan cenderung meningkatkan motivasi belajar. Motivasi bertambah bila para pelajar memiliki alasan untuk percaya bahwa sebagian besar dari kebutuhannya dapat dipenuhi. Kajian dan penguatan guru, orang tua dan teman seusia berpengaruh terhadap motivasi dan perilaku. Insentif dan hadiah material kadang-kadang berguna dalam situasi kelas, memang ada bahayanya bila anak bekerja karena ingin mendapat hadiah dan bukan karena ingin belajar. Kompetisi dan insentif bisa efektif dalam memberi motivasi, tapi bila kesempatan untuk menang begitu kecil kompetisi dapat mengurangi motivasi dalam mencapai tujuan. Prinsip Persepsi Persepsi adalah interpretasi tentang situasi yang hidup. Setiap individu melihat dunia dengan caranya sendiri yang berbeda dari yang lain. Persepsi ini mempengaruhi perilaku individu. Seseorang guru akan dapat memahami murid-muridnya lebih baik bila ia peka terhadap bagaimana cara seseorang melihat suatu situasi tertentu. Berkenaan dengan persepsi ini ada beberapa hal-hal penting yang harus kita perhatikan: Setiap pelajar melihat dunia berbeda satu dari yang lainnya karena setiap pelajar memiliki lingkungan yang berbeda. Semua siswa tidak dapat melihat lingkungan yang sama dengan cara yang sama. Seseorang menafsirkan lingkungan sesuai dengan tujuan, sikap, alasan, pengalaman, kesehatan, perasaan dan kemampuannya. Cara bagaimana seseorang melihat dirinya berpengaruh terhadap perilakunya. Dalam sesuatu situais seorang pelajar cenderung bertindak sesuai dengan cara ia melihat dirinya sendiri. Para pelajar dapat dibantu dengan cara memberi kesempatan menilai dirinya sendiri. Guru dapat menjadi contoh hidup. Perilaku yang baik bergantung pada persepsi yang cermat dan nyata mengenai suatu situasi. Guru dan pihak lain dapat membantu pelajar menilai persepsinya. Prinsip Tujuan Tujuan ialah sasaran khusus yang hendak dicapai oleh seseorang dan mengenai tujuan ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan: Tujuan seyogianya mewadahi kemampuan yang harus dicapai. Dalam menetapkan tujuan seyogianya mempertimbangkan kebutuhan individu dan masyarakat Pelajar akan dapat menerima tujuan yang dirasakan akan dapat memenuhi kebutuhannya. Tujuan guru dan murid seyogianya sesuai Aturan-aturan atau ukuran-ukuran yang ditetapkan oleh masyarakat dan pemerintah biasanya akan mempengaruhi perilaku. Tingkat keterlibatan pelajar secara aktif mempengaruhi tujuan yang dicanangkannya dan yang dapat ia capai. Prinsip Perbedaan Individual Proses pengajaran seyogianya memperhatikan perbedaan indiviadual dalam kelas sehingga dapat memberi kemudahan pencapaian tujuan belajar yang setinggi-tingginya. Pengajaran yang hanya memperhatikan satu tingkatan sasaran akan gagal memenuhi kebutuhan seluruh siswa. Karena itu seorang guru perlu memperhatikan latar belakang, emosi, dorongan dan kemampuan individu dan menyesuaikan materi pelajaran dan tugas-tugas belajar kepada aspek-aspek tersebut. Berkenaan dengan perbedaan individual ada beberapa hal yang perlu diingat: Para pelajar harus dapat dibantu dalam memahami kekuatan dan kelemahan dirinya dan selanjutnya mendapat perlakuan dan pelayanan kegiatan, tugas belajar dan pemenuhan kebutuhan yang berbeda-beda. Para pelajar perlu mengenal potensinya dan seyogianya dibantu untuk merenncanakan dan melaksanakan kegiatannya sendiri. Para pelajar membutuhkan variasi tugas, bahan dan metode yang sesuai dengan tujuan , minat dan latarbelakangnya. Pelajar cenderung memilih pengalaman belajar yang sesuai dengan pengalamannya masa lampau yang ia rasakan bermakna untuknya. Setiap pelajar biasanya memberi respon yang berbeda-beda karena memang setiap orang memiliki persepsi yang berbeda mengenai pengalamannya. Kesempatan-kesempatan yang tersedia untuk belajar lebih diperkuat bila individu tidak merasa terancam lingkungannya, sehingga ia merasa merdeka untuk turut ambil bagian secara aktif dalam kegiatan belajar. Manakala para pelajar memiliki kemerdekaan untuk berpikir dan berbuat sebagai individu, upaya untuk memecahkan masalah motivasi dan kreativitas akan lebih meningkat. Prinsip Transfer dan Retensi Apa pun yang dipelajari dalam suatu situasi pada akhirnya akan digunakan dalam situasi yang lain. Prosesa tersebut dikenal dengan proses transfer, kemampuan seseorang untuk menggunakan lagi hasil belajar disebut retensi. Bahan-bahan yang dipelajari dan diserap dapat digunakan oleh para pelajar dalam situasi baru. Berkenaan dengan proses transfer dan retensi ada beberapa prinsip yang harus kita ingat. Tujuan belajar dan daya ingat dapat memperkuat retensi. Usaha yang aktif untuk mengingat atau menugaskan sesuatu latuhan untuk dipelajari dapat meningkatkan retensi. Bahan yang bermakna bagi pelajar dapat diserap lebih baik. Retensi seseorang dipengaruhi oleh kondisi fisik dan psikis dimana proses belajar itu terjadi. Karena itu latihan seyogianya dilakukan dalam suasana yang nyata. Latihan yang terbagi-bagi memungkinkan retensi yang baik. Suasana belajar yang dibagi ke dalam unit-unit kecil waktu dapat menghasilkan proses belajar dengan retensi yang lebih baik daripada proses belajar yang berkepanjangan. Waktu belajar dapat ditentukan oleh struktur-struktur logis dari materi dan kebutuhan para pelajar. Penelaahan bahan-bahan yang faktual, keterampilan dan konsep dapat meningkatkan retensi dan nilai transfer. Prinsip Belajar Kognitif Belajar kognitif mencakup asosiasi antar unsur, pembentukan konsep, penemuan masalah, dan keterampilan memecahkan masalah yang selanjutnya membentuk perilaku baru, berpikir, menalar, menilai dan berimajinasi merupakan aktivitas mental yang berkaitan dengan proses belajar kognitif. Proses belajar itu dapat terjadi pada berbagai tingkat kesukaran dan menuntut berbagai aktivitas mental. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam belajar kognitif. Perhatian harus dipusatkan kepada aspek-aspek lingkungan yang relevan sebelum proses-proses belajar kognitif terjadi. Dalam hubungan ini pelajar perlu mengarahkan perhatian yang penuh agar proses belajar kognitif benar-benar terjadi. Hasil belajar kognitif akan bercariasi sesuai dengan taraf dan jenis perbedaan individual yang ada. Bentuk-bentuk kesiapan perbendaharaan kata, kemampuan membaca, kecakapan dan pengalaman berpengaruh langsung terhadap proses belajar kognitif. Pengalaman belajar harus diorganisasikan ke dalam satuan-satauan atau unit-unit yang sesuai. Bila menyajikan konsep, kebermaknaan dari konsep amatlah penting . Perilaku mencari, penerapan, pendefinisian resmi dan penilaian sangat diperlukan untuk menguji bahwa suatu konsep benar-benar bermakna. Prinsip Belajar Afektif Belajar afektif mencakup nilai emosi, dorongan, minat dan sikap. Dalam banyak hal pelajar mungkin tidak menyadari belajar afektif. Sesungguhnya proses belajar afektif meliputi dasar yang asli untuk dan merupakan bentuk dari sikap, emosi dorongan, minat dan sikap individu. Berkenaan dengan hal-hal tersebut diatas, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam proses belajar afektif. Hampir semua aspek kehidupan mengandung aspek afektif. Hal bagaimana para pelajar menyesuaikan diri dan memberi reaksi terhadap situasi akan memberi dampak dan pengaruh terhadap proses belajar afektif. Suatu waktu, nilai-nilai yang penting yang diperoleh pada masa kanak-kanak akan melekat sepanjang hayat. Nilai, sikap dan perasaan yang tidak berubah akan tetap melekat pada keseluruhan proses perkembangan. Sikap dan nilai sering diperoleh melalui proses identifikasi dari orang lain dan bukan hasil dari belajar langsung. Sikap lebih mudah dibentuk karena pengalaman yang menyenangkan. Proses Belajar Psikomotor Proses belajar psikomotor individu menentukan bagaimana ia mampu mengendalikan aktivitas jasmaninya. Belajar psikomotor mengandung aspek mental dan fisik. Berkenaan dengan hal itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Didalam tugas suatu kelompok akan menunjukkan variasi dalam kemampuan dasar psikomotor. Perkembangan psikomotor anak tertentu terjadi tidak beraturan. Struktur ragawi dan sistem syaraf individu membantu menentukan taraf penampilan psikomotor. Melalui bermain dan aktivitas nonformal para pelajar akan memperoleh kemampuan mengontrol gerakannya lebih baik. Dengan kematangan fisik dan mental kemampuan pelajar untuk memadukan dan memperhalus gerakannya akan lebih dapat diperkuat. Faktor lingkungan memberi pengaruh terhadap bentuk dan cdakupan penampilan psikomotor individu. Penjelasan yang baik, demonstrasi dan partisipasi aktif pelajar dapat menambah efisiensi belajar psikomotor. Prinsip Evaluasi Pelaksanaan latihan evaluasi memungkinkan bagi individu untuk menguji kemajuan dalam pencapaian tujuan. Penilaian individu terhadap proses belajarnya dipengaruhi oleh kebebasan untuk menilai. Evaluasi mencakup kesadaran individu mengenai penampilan, motivasi belajar dan kesiapan untuk belajar. Individu yang berinteraksi dengan yang lain pada dasarnya ia mengkaji pengalaman belajarnya dan hal ini pada gilirannya akan dapat meningkatkan kemampuannya untuk menilai pengalamannya. Berkenaan dengan evaluasi ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Evaluasi memberi arti pada proses belajar dan memberi arah baru pada pelajar. Bila tujuan dikaitkan dengan evaluasi maka peran evaluasi begitu penting bagi pelajar. Latihan penilaian guru dapat mempengaruhi bagaimana pelajar terlibat dalam evaluasi dan belajar. Evaluasi terhadap kemajuan pencapaian tujuan akan lebih mantap bila guru dan murid saling bertukar dan menerima pikiran, perasaan dan pengamatan. Kekurangan atau ketidaklengkapan evaluasi dapat mengurangi kemampuan guru dalam melayani muridnya. Sebaliknya evaluasi yang menyeluruh dapat memperkuat kemampuan pelajar untuk menilai dirinya. Jika tekanan evaluasi guru diberikan terus menerus terhadap penampilan siswa, pola ketergantungan penghindaran dan kekerasan akan berkembang. 2. Prinsip-Prinsip Pembelajaran Menurut Chaedar Alwasilah, dengan memerhatikan hakikat pembelajaran adalah “interaksi antara siswa dengan lingkungan pembelajaran agar tercapai tujuan pembelajaran (perubahan perilaku), maka terdapat prinsip-prinsip umum yang harus menjadi inspirasi bagi pihak-pihak yang terkait dengan pembelajaran (siswa dan guru), yaitu : Prinsip umum pembelajaran Bahwa belajar menghasilkan perubahan perilaku peserta didik yang relatif permanen Peserta didik memiliki potensi, gandrung dan kemampuan yang merupakan benih kodrati untuk ditumbuhkembangkan Perubahan atau pencapaian kualitas ideal itu tidak tumbuh alami liniear sejalan proses kehidupan. Prinsip Khusus Pembelajaran Prinsip perhatian dan motivasi Perhatian dalam proses pembelajaran memiliki peranan yang sangat penting sebagai langkah awal dalam memicu aktivitas-aktivitas belajar. Diperlukan susunan rancangan pembelajaran yang dapat menarik perhatian dan motivasi belajar siswa. Mengingat begitu pentingnya faktor perhatian, maka dalam proses pembelajaran, perhatian berfungsi sebagai modal awal yang harus dikembangkan secara optimal untuk memperoleh proses dan hasil yang maksimal (Gage dan Berliner: 1984) Perhatian adalah memusatkan pikiran dan perasaan emosional secara fisik dan psikis terhadap sesuatu yang menjadi pusat perhatiannya. Perhatian dapat muncul secara spontan dapat pula muncul sesuai yang direncanakan. Dalam proses pembelajaran pembelajaran, perhatian peserta didik akan muncul jika pelajaran yang diberikan merupakan bahan pelajaran yang mnarik atau yang dibutuhkan oleh peserta didik. Namun jika perhatian ini tidak muncul secara alami, maka tugas gurulah yang membangkitkan perhatian peserta didik, artinya guru harus bisa mengemas penyampaian materi sedimikian rupa yang tentu saja bisa membangkitkan perhatian anak terhapap mata pelajaran yang bersangkutan. Sedangkan bentuk perhatian direflesikan dengna cara melihat dengan penuh perhatian, meraba, menganalisis, bertanya dan aktivitas-aktivitas lainnya. Motivasi memiliki peranan yang penting dalam kegiatan pembelajaran. Seorang anak yang memiliki minat terhadap materi pembelajaran tertentu, ia akan lebih intensif memperhatikan dan akan timbul motivasi dalam dirinya untuk mempelajari materi tersebut lebih dalam. Motivasi akan mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak orang lain lakukan. Menurut H.L.Petri (1986), “motivation is the concept we use went we describe the forces acting on or within an organism to initiate and direct behavior.” Motivasi dapat dijadikan tujuan dan alat dalam pembelajaran. Motivasi sifatnya stabil, bisa saja tinggi, sedang bahkan menurun. Motivasi berhubungan erat dengan minat. Siswa yang memiliki minat lebih tinggi terhadap suatu mata pelajaran tertentu, ia akan cenderung memberikan perhatian lebih pada mata pelajaran tersebut sehingga akan menimbulkan motivasi belajar dalam dirinya terhadap mata pelajaran tersebut. Motivasi dapat bersifat internal artinya motivasi ini memang muncul dalam dirinya sendiri tanpa ada intervensi dari luar, misalnya harapan, cita-cita, minat dan lain-lain. Sedangkan motivasi yang sifatnya eksternal artinya bahwa ada rangsangan/stimulus dari luar yang menyebabkan motivasi seseorang muncul, misalnya kondisi lingkungan kelas, sekolah, adanya hadiah/ reward, pujian, karena takut akan hukuman dan lain-lain. Motivasi dapat dibedakan menjadi dua yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Setiap motif baik itu intrinsik maupun ekstrinsik dapat pula bersifat internal ataupun eksternal. Motif tersebut juga dapat berubah dari motif eksternal menjadi motif internal ataupun sebaliknya. Misalkan ada seorang anak yang awalnya diminta oleh orang tuanya untuk belajar di bidang pendidikan. Motivasi tersebut awalnya bersifat eksternal karena ada dorongan dari orangtuanya, saat ternyata anak tersebut mulai menyukai pelajarannya serta berminat dalam mempelajarinya, maka akan timbulah motivasi dalam dirinya, yaitu motivasi internal. Motivasi belajar merupakan hal yang sangat penting dalam pelaksanan pembelajaran. Hal ini didasari oleh berbagai hal, diantarnya : Siswa harus senantiasa didorong oleh untuk bekerja sama dalam belajar. Siswa harus senantiasa didorong untuk bekerja dan berusaha sesuai dengan tuntutan belajar. Motivasi merupakan hal yang penting untuk memelihara dan mengembangkan sumber daya manusia melalui pendidikan. Motivasi dapat diartikan sebagai upaya untuk menimbulkan atau meningkatkan dorongan untuk mewujudkan perilaku tertentu yang terarah kepada pencapaian tujuan. Perilaku belajar yang terjadi dalam proses pembelajaran adalah pencapaian tujuan dan hasil belajar. Prinsip Keaktifan Belajar pada hakikatnya adalah proses aktif di mana seseorang melakukan kegiatan secara sadar untuk mengubah suatu perilaku, terjadi kegiatan merespon terhadap setiap pembelajaran. Kecenderungan psikologi saat ini menyatakan bahwa anak adalah makhluk yang aktif. John Dewey menyatakan bahwa “belajar adalah menyangkut apa yang harus dikerjakan siswa oleh dirinya sendiri, maka inisiatif belajar harus muncul dari dirinya”. Dalam proses belajar, guru hanya sebagai membimbing dan mengarahkan sedangkan siswa yang harus aktif belajar. Teori kognitif menyatakan bahwa belajar menunjukan adanya jiwa yang aktif, jiwa yang tidak sekedar merespons informasi, namun jiwa mengolah dan melakukan transformasi informasi yang diterima (Gage & Berliner, 1984:267). Maka siswa sebagai subyek belajar memiliki sifat aktif, kontruktif, dan mampu merencanakan, mencari mengolah informasi, menganalisis, mengidentifikasi, memecahkan, meyimpulkan dan melaksanakan tranformasi ke dalm kehidupan yang lebih luas. Thorndike dengan “Law of exercise” menyatakan bahwa belajar perlu adanya latihan-latihan. Mc Keachie menyatakan bahwa “tentang individu merupakan manusia yang aktif dan selalu ingin tahu, dapat menjadi masukan bahwa dalam proses pembelajaran , guru dapat menggali dan mengembangkan aktivitas-aktivitas pembelajaran yang berpusat pada siswa. Pembahasan Asep dulu BAB III PENUTUP Kesimpulan Adapun kesimpulan dari kami adalah sebagai berikut: Pembelajaran adalah hasil interaksi antara siswa dengan lingkungan pembelajaran untuk mencapai tujuan dari pembelajaran yaitu terjadinya perubahan perilaku berupa pengetahuan, sikap, nilai dan keterampilan. Dalam pembelajaran perlu diperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran sebagai suatu acuan, ketentuan dalam melaksanakan proses pembelajaran sehingga terjadi pembelajaran yang efektif dan efisien. Saran Saran yang dapat penulis berikan untuk makalah ini sebagai berikut: Perlu adanya dorongan dan dukungan dari semua pihak untuk melaksanakan prinsip-prinsip pembelajaran dalam melaksanakan proses pembelajaran Dilakukan pengembangan pendidikan dengan cara menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran untuk tercapainya tujuan pembelajaran DAFTAR PUSTAKA Fitriyah, Yuni.(2012). Prinsip-Prinsip Belajar dan Asas Pembelajaran. [online]. Tersedia: http://blog.unsri.ac.id/yunifitriyah/belajar-dan-pembelajaran/prinsip-prinsip-belajar-dan-asas-pembelajaran/mrdetail/15206/.[20 Oktober 2012]. Nahampun, Jeperis.(2009). Prinsip-Prinsip Belajar dan Pembelajaran. [online]. Tersedia: http://jeperis.wordpress.com/2009/01/21/prinsip-prinsip-belajar-dan-pembelajaran/.[20 Oktober 2012].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar