Jumat, 19 April 2013

katakan kebenaran walaupun pahit


Tanya Nurani
Teringat saat dulu belajar makhfudzot saat pesantren dulu. Makhfodzot itu ilmu yang mempelajari terntang kalimat-kalimat kiasan bermakna dalam kehidupan dengan menggunakan Bahasa Arab. Seperti yang diceritakan dalam buku Negeri Lima Menara yang mengajarkan konsep “man jadda wa jadda”. Benar itu adalah suatu kalimat yang sangat luar biasa dan awal dipelajari di pelajaran makhfodzot.  Setelah itu kalimat yang dipelajari selanjutnya adalah “man shabara zhafira”. Setelah melewati beberapa kalimat lain yang diajarkan barulah muncul ada kalimat “kulli haqqa walaukaana murran” artinya katakanlah kebenaran walaupun pahit.
            Kulli haqqa waalukana murran, kadang kita selalu ragu terhadap apa yang akan kita lakukan atau akan kita katakan. Tapi ada satu hal yang menjadi pengarah dalam hidup kita, penjaga saat ilmu agama kita kurang itulah yang dinamakan hati nurani. Hati nurani kita selalu menyatakan hal yang baik. Ketika kita ragu akan suatu hal maka tanya hati nurani kita walaupun banyak sekali ilmu agama yang tidak kita ketahui dan kuasai tapi hati nurani bisa dijadikan sebagai anggukan universal karena dapat merasakan kebenaran hakiki.
            Coba bayangkan saat kita melihat ada seorang ibu yang tiba-tiba tasnya dijabret orang pasti hati kita ingin tergerak untuk menolong ibu tersebut. Namun kita memilih untuk diam walaupun dalam diri setiap orang yang kejadian itu ada anggukan universal untuk menolong ibu tersebut. Nurani tak bisa dibohongi. Saat kita akan melakukan perbuatan buruk atau jahil pada teman kita hati nurani kita secara histeris dan spontan akan berkata “tidak”. Maka tanya hati nurani kita.
             Seorang  pelajar atau mahasiswa yang sedang ujian yang mencotek jawaban temannya akan mengakui bahwa perbuatan tersebut adalah perbuatan buruk karena hati nurani akan membisikkan kebenaran hakiki. Budaya mencotek saat ini sudah menjadi budaya yang melekat di berbagai kalangan. Sebenarnya ada kaitannya antara syahadat yang kita ucapkan bahwa tidak ada tuhan selain Alloh  tapi dalam prakteknya kadang kita tak sadar bahwa yang kita perbuat menyalahi kontek syahadat kita. Jika kita mencontek, kalimat syahadat yang berupa “asyhadu an laa ilaaha illallah” menjadi asyhadu an laa illaha lulus ujian, nilai A dan lain sebagainya. Kenapa kontek syahadat menjadi berubah? Hal ini disebabkan kita yang lebih takut pada dosen, takut tidak lulus, takut nilai jelek tanpa rasa takut sama sekali pada Allloh Yang Maha Melihat segala gerak-gerik kita maka saat itulah illah kita berubah menjadi illah dosen, illah nilai bukan lagi illallah.
            Suatu hari saya mendapat sms tauhid dari Aa Gym, isinya seperti ini. “ Gelisah karena ingat dosa adalah karunia, bila hati sudah bebal tak takut dosa adalah petaka” saya langsung beristighfar mendapat sms tersebut. Memang benar ketika kita melakukan dosa maka hati tidak tenang, gelisah dan kepikiran. Itu semua karena nurani kita tau bahwa yang kita lakukan adalah perbuatan buruk sehingga secara spontan tidak setuju terhadap perbuatan tersebut. Tapi bagaimana jika yang kita rasakan hanya biasa saja saat melakukan perbuatan dosa tanpa ada rasa gelisah apalagi sampai susah tidur? Itu merupakan petaka besar bagi kita saat perbuatan buruk yang kita lakukan tidak membuat kita gusar mungkin karena saking seringnya kita berbuat dosa. Astaghfirulloh,,,
            Kala kemaksiatan yang kita lakukan ibarat sebuah noktah hitam di hati kita yang diibaratkan sehelai kertas putih. Saat kita melakukan maksiat maka noktah hitam muncul di kertas putih tersebut. Semakin sering kita melakukan kemaksiatan maka noktah-noktah itu semakin  dan kertas yang tadinya putih menjadi hitam dipenuhi oleh noktah-noktah hitam itu. Begitupun dengan hati kita, ketika melakukan kemaksiatan jika terus dilakukan maka noktah dosa itu menebal sehingga menyelimuti hati kita. Kebenaran  yang dikeluarkan oleh hati nurani sebagai pembisik kebenaran hakiki menjadi tidak terdengar. Itulah salah satu sebab mengapa kita menajdi tenang-tenang saja tidak ada rasa bersalah sedikitpun saat melakukan dosa.
Kebenaran memang terkadang pahit untuk dikatakan tapi berakhir bahagia dibandingkan saat kita berbuat keburukan. Semoga kita semua tidak termasuk ke dalam orang-orang yang hati nuraninya tak bisa terdengar lagi akibat menebalnya tertutup oleh dinding-dinding dosa yang kita lakukan. Mari renungkan setiap hal kita perbuat dengarkan hati nurani kita. Maka tobati dan hikmati. Insya Alloh kulluhu khoir,,, “kulli haqqa walaukanaa murran” ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar